Jumat, 06 Maret 2026

Sejarah Hubungan Israel dan Iran: Dari Bersatu Menjadi Saling Melawan

Analisa Politik, Bisnis, Keamanan, dan Kepentingan Global

Oleh : Basa Alim Tualek (obasa)


Portal Suara Academia:  Hubungan antara Israel dan Iran merupakan salah satu hubungan geopolitik paling menarik dalam sejarah dunia modern. Banyak orang saat ini melihat kedua negara tersebut sebagai musuh besar di kawasan Timur Tengah. Namun jika menelusuri sejarahnya, kedua negara ini pernah menjadi sekutu yang sangat dekat.

Perubahan dari hubungan persahabatan menjadi konflik keras tidak terjadi secara tiba-tiba, tetapi melalui proses panjang yang dipengaruhi oleh politik, bisnis, keamanan regional, ideologi, dan kepentingan global.

Artikel ini mencoba mengurai perjalanan sejarah hubungan Israel dan Iran secara lebih mendalam.


1. Awal Hubungan Israel dan Iran

Negara Israel berdiri pada tahun 1948 setelah berakhirnya mandat Inggris di Palestina. Berdirinya Israel memicu konflik dengan banyak negara Arab di Timur Tengah.

Namun berbeda dengan negara Arab lainnya, Iran pada masa pemerintahan Mohammad Reza Shah Pahlavi memiliki pendekatan yang lebih pragmatis.

Iran akhirnya menjadi salah satu negara Muslim pertama yang secara tidak langsung mengakui Israel pada tahun 1950.

Hubungan ini dilatarbelakangi oleh beberapa faktor penting:

1. Kepentingan geopolitik

Iran bukan negara Arab dan memiliki rivalitas dengan beberapa negara Arab.

2. Hubungan dengan Barat

Iran pada masa Shah merupakan sekutu dekat Amerika Serikat.

3. Kebutuhan ekonomi dan teknologi

Israel memiliki teknologi pertanian dan militer yang sangat dibutuhkan Iran.

Karena itu, hubungan kedua negara berkembang cukup erat dalam berbagai bidang.


2. Kerja Sama Ekonomi dan Bisnis

Pada periode 1950–1970-an, hubungan Israel dan Iran berkembang dalam sektor bisnis dan perdagangan.

Iran menjadi salah satu pemasok minyak penting bagi Israel. Sementara Israel membantu Iran dalam berbagai proyek teknologi dan pembangunan.

Kerja sama yang terjadi antara lain:

  • pembangunan infrastruktur
  • teknologi pertanian
  • kerja sama militer
  • proyek energi

Salah satu proyek besar adalah pipa minyak rahasia Israel-Iran yang mengalirkan minyak dari Laut Merah menuju Laut Mediterania.

Proyek ini menjadi sangat strategis karena memungkinkan Israel mendapatkan pasokan energi meskipun diboikot oleh negara Arab.

Dalam konteks bisnis, hubungan kedua negara pada masa itu bisa dikatakan saling menguntungkan.

Iran mendapatkan teknologi dan akses pasar, sementara Israel mendapatkan energi dan mitra strategis di kawasan.


3. Kerja Sama Keamanan dan Intelijen

Selain bisnis, kerja sama yang sangat kuat terjadi dalam bidang keamanan dan intelijen.

Pada masa pemerintahan Shah, badan intelijen Iran SAVAK memiliki hubungan erat dengan badan intelijen Israel, yaitu Mossad.

Kerja sama ini mencakup:

  • pertukaran informasi intelijen
  • pelatihan keamanan
  • pengembangan strategi militer

Tujuan utama kerja sama ini adalah menghadapi ancaman dari negara-negara Arab yang menentang Israel.

Pada masa itu Israel mengembangkan strategi yang dikenal sebagai “Periphery Doctrine”, yaitu menjalin hubungan dengan negara non-Arab di sekitar Timur Tengah seperti Iran, Turki, dan Ethiopia.

Strategi ini bertujuan mengimbangi kekuatan negara Arab yang memusuhi Israel.


4. Kehidupan Sosial dan Hubungan Budaya

Pada masa persahabatan tersebut, hubungan masyarakat kedua negara juga relatif baik.

Iran memiliki komunitas Yahudi yang cukup besar dan hidup berdampingan dengan masyarakat Muslim.

Banyak warga Iran yang melakukan kerja sama bisnis dengan perusahaan Israel.

Hubungan budaya dan pendidikan juga berkembang melalui pertukaran pelajar dan kerja sama akademik.

Hal ini menunjukkan bahwa hubungan kedua negara tidak hanya bersifat politik, tetapi juga sosial dan ekonomi.


5. Perubahan Besar: Revolusi Iran 1979

Hubungan yang harmonis antara Israel dan Iran berubah drastis setelah terjadi Iranian Revolution.

Revolusi ini dipimpin oleh ulama karismatik Iran, yaitu Ruhollah Khomeini.

Revolusi tersebut menggulingkan pemerintahan Shah dan mengubah Iran menjadi Republik Islam.

Setelah revolusi, kebijakan luar negeri Iran berubah secara radikal.

Beberapa langkah penting yang diambil pemerintah baru Iran adalah:

1. memutus hubungan diplomatik dengan Israel

2. menutup kedutaan Israel di Teheran

3. menyatakan Israel sebagai musuh utama

Bahkan gedung bekas kedutaan Israel di Teheran kemudian diserahkan kepada perwakilan Palestina.

Perubahan ini menandai akhir persahabatan Israel-Iran.


6. Konflik Ideologi dan Politik

Setelah revolusi, konflik antara Israel dan Iran tidak hanya bersifat politik, tetapi juga ideologis.

Iran menganggap keberadaan Israel sebagai bentuk penjajahan terhadap Palestina.

Sementara Israel melihat Iran sebagai ancaman serius terhadap keamanan nasionalnya.

Iran kemudian memberikan dukungan kepada kelompok-kelompok yang menentang Israel, seperti:

  • Hezbollah di Lebanon
  • Hamas di Palestina

Dukungan ini meliputi bantuan dana, pelatihan militer, dan persenjataan.

Akibatnya, hubungan kedua negara semakin memburuk.


7. Konflik Modern: Perang Tidak Langsung

Saat ini Israel dan Iran jarang terlibat perang langsung.

Namun keduanya terlibat dalam perang tidak langsung melalui berbagai konflik regional.

Beberapa bentuk konflik tersebut antara lain:

1. operasi intelijen

2. serangan siber

3. konflik di Suriah dan Lebanon

4. perang melalui kelompok milisi

Israel sering melakukan serangan terhadap fasilitas militer Iran di Suriah, sementara Iran memperkuat jaringan militernya di kawasan.

Konflik ini sering disebut sebagai shadow war atau perang bayangan.


8. Persaingan Ekonomi dan Energi

Selain faktor ideologi, konflik Israel dan Iran juga dipengaruhi oleh persaingan ekonomi dan energi.

Iran merupakan salah satu negara dengan cadangan minyak dan gas terbesar di dunia.

Sementara Israel memiliki posisi strategis dalam jalur perdagangan dan teknologi.

Persaingan ini juga berkaitan dengan pengaruh ekonomi di Timur Tengah.

Negara yang memiliki kekuatan ekonomi dan energi akan memiliki pengaruh politik yang besar di kawasan.


9. Pengaruh Politik Global

Konflik Israel dan Iran tidak bisa dilepaskan dari pengaruh kekuatan global.

Israel merupakan sekutu utama United States di Timur Tengah.

Sementara Iran sering berseberangan dengan kebijakan Amerika dan sekutunya.

Persaingan ini membuat konflik Israel-Iran sering menjadi bagian dari pertarungan geopolitik global.

Beberapa negara besar ikut terlibat dalam dinamika ini melalui dukungan politik, ekonomi, maupun militer.


10. Pelajaran dari Sejarah Hubungan Ini

Sejarah hubungan Israel dan Iran memberikan pelajaran penting dalam politik internasional.

Negara yang dulu menjadi sekutu bisa berubah menjadi musuh karena perubahan:

  • kepemimpinan politik
  • ideologi negara
  • kepentingan ekonomi
  • dinamika keamanan regional

Dalam politik global tidak ada persahabatan yang benar-benar abadi.

Yang ada adalah kepentingan nasional masing-masing negara.


Kesimpulan

Perjalanan hubungan antara Israel dan Iran merupakan contoh nyata bagaimana dinamika politik dunia dapat berubah secara drastis.

Pada awalnya kedua negara merupakan sekutu strategis yang bekerja sama dalam bidang bisnis, keamanan, dan teknologi.

Namun setelah Revolusi Iran 1979, hubungan tersebut berubah menjadi permusuhan geopolitik yang terus berlangsung hingga saat ini.

Konflik antara Israel dan Iran dipengaruhi oleh berbagai faktor, antara lain:

  • ideologi politik
  • kepentingan bisnis dan energi
  • keamanan regional
  • persaingan geopolitik global

Memahami sejarah ini penting agar masyarakat dapat melihat konflik Timur Tengah secara lebih objektif dan tidak hanya dari sudut pandang emosional.

Karena pada akhirnya, konflik antarnegara sering kali bukan hanya soal agama atau ideologi, tetapi juga kekuasaan, kepentingan ekonomi, dan strategi politik global. (Obasa)



Portal Suara Academia hadir sebagai platform akademis berkualitas dengan artikel ilmiah, diskusi panel, dan ulasan buku oleh Profesional dan Akademisi terkemuka, dengan standar tinggi dan etika yang ketat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar