Kamis, 29 Januari 2026

LEBIH BAIK DI DEMO DARIPADA BERHIANAT

Refleksi iman dan filosofi kehidupan tentang amanah kekuasaan, kritik rakyat, dan keberanian untuk turun

Oleh: Basa Alim Tualeka (Obasa)


Puisi:

Lebih Baik Didemo Daripada Berkhianat

Aku datang ke kursi bukan membawa mahkota,
melainkan amanah yang berat di pundak jiwa.
Jika suaramu meninggi karena kecewa,
biarlah itu jadi cermin, bukan luka.

Teriakanmu di jalan adalah doa yang keras,
agar nurani penguasa tak kehilangan arah.
Lebih baik telingaku panas oleh amarah,
daripada hatiku dingin oleh dusta yang pasrah.

Jika kelak kau minta aku turun dengan jujur,
akan kuterima tanpa dendam dan keluh.
Sebab kursi hanyalah persinggahan rapuh,
bukan tujuan hidup yang harus kutuhankan penuh.

Aku memilih dimarahi manusia di dunia,
asal tak dimurkai Tuhan di akhir cerita.
Lebih baik didemo karena setia pada kebenaran,
daripada dipuji namun berkhianat pada kemanusiaan.


1. Pendahuluan: Kekuasaan yang Harus Siap Diuji

Seandainya saya, Basa Alim Tualeka (Obasa), dipercaya menjadi pejabat di negara ini, maka sejak hari pertama saya telah menyiapkan diri untuk menghadapi konsekuensi paling keras dari kekuasaan: dicaci, dikritik, didemo, bahkan diturunkan oleh rakyat yang memilih saya. Jabatan bukan hadiah, melainkan amanah berat yang menuntut kesiapan mental, moral, dan spiritual.

Demokrasi tidak menjanjikan kenyamanan bagi pejabat, tetapi menjamin hak rakyat untuk mengoreksi. Karena itu, prinsip hidup saya sederhana namun tegas: lebih baik didemo daripada berkhianat kepada rakyat dan nurani.


2. Kekuasaan dalam Perspektif Iman: Amanah, Bukan Hak

Dalam Islam, kekuasaan tidak pernah diletakkan sebagai hak pribadi. Ia adalah titipan yang sewaktu-waktu dapat dicabut. Allah SWT berfirman:

“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan apabila kamu menetapkan hukum di antara manusia, hendaklah kamu menetapkannya dengan adil.” (QS. An-Nisa: 58)

Ayat ini menegaskan bahwa keadilan dan amanah adalah fondasi kekuasaan. Tanpa keduanya, jabatan berubah menjadi sumber kezaliman. Maka kritik rakyat sejatinya adalah alat penjaga amanah, bukan ancaman kekuasaan.


3. Pertanggungjawaban Pemimpin Menurut Hadits Nabi

Rasulullah SAW mengingatkan dengan sangat jelas:

“Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadits ini membongkar ilusi kekuasaan. Jabatan bukan tentang kehormatan duniawi, melainkan beban hisab di akhirat. Maka, pejabat yang marah ketika dikritik sejatinya lupa bahwa kritik adalah bagian dari proses pertanggungjawaban itu sendiri.


4. Kritik dan Demo sebagai Nafas Demokrasi

Dalam kehidupan bernegara, demo sering dicap sebagai gangguan stabilitas. Padahal, dalam demokrasi yang sehat, demo adalah alarm sosial. Ketika rakyat turun ke jalan, itu tanda ada suara yang tidak sampai ke pusat kekuasaan.

Menutup ruang aspirasi hanya akan melahirkan kemarahan yang lebih besar. Karena itu, negara wajib menyediakan ruang resmi, aman, dan bermartabat bagi rakyat untuk menyampaikan aspirasi apa pun, selama dilakukan secara damai dan beradab.


5. Filosofi Kehidupan: Mendengar Lebih Sulit daripada Berkuasa

Dalam filosofi hidup, mendengar kritik jauh lebih sulit daripada memegang kekuasaan. Kekuasaan memberi rasa kuat, sementara kritik menuntut kerendahan hati. Namun justru di situlah kualitas seorang pemimpin diuji.

Orang yang menolak kritik sesungguhnya sedang membangun tembok kesombongan. Dan kesombongan adalah awal dari kejatuhan, baik dalam kehidupan pribadi maupun dalam sejarah bangsa.


6. Kekuasaan Itu Sementara: Pelajaran dari Al-Qur’an

Allah SWT mengingatkan manusia agar tidak terjebak ilusi keabadian:

“Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu Kami pergilirkan di antara manusia.” (QS. Ali Imran: 140)

Ayat ini menegaskan bahwa naik-turun kekuasaan adalah sunnatullah. Tidak ada rezim yang kekal. Tidak ada jabatan yang abadi. Kesadaran inilah yang seharusnya melahirkan sikap rendah hati dalam memimpin.


7. Siap Diturunkan: Etika Tertinggi Kepemimpinan

Banyak orang siap naik jabatan, tetapi tidak siap turun. Padahal, kesediaan untuk turun ketika gagal adalah etika tertinggi seorang pemimpin. Turun bukan berarti kalah, melainkan mengakui keterbatasan dan menghormati kedaulatan rakyat.

Lebih terhormat turun karena keputusan rakyat daripada bertahan dengan cara manipulatif, represif, dan mengorbankan nilai-nilai keadilan.


8. Negara yang Sehat Lahir dari Pemimpin yang Rendah Hati

Negara yang kuat bukan dibangun oleh pemimpin yang selalu benar, tetapi oleh pemimpin yang berani mengakui kesalahan. Kerendahan hati adalah fondasi kepercayaan publik. Tanpa kepercayaan, negara hanya tinggal struktur tanpa jiwa.

Pemimpin yang rendah hati tidak takut dimarahi rakyat, karena ia sadar bahwa amarah rakyat sering kali lahir dari kekecewaan yang tulus.


9. Lebih Baik Dimarahi Rakyat daripada Dimurkai Tuhan

Dalam filosofi iman, kemurkaan Tuhan jauh lebih berat daripada kehilangan jabatan. Karena itu, saya memilih satu prinsip hidup: lebih baik dimaki rakyat karena jujur, daripada dipuji karena dusta.

Lebih baik kebijakan tidak populer tetapi benar, daripada kebijakan populer yang merusak masa depan bangsa. Integritas harus berdiri di atas popularitas.


10. Penutup: Kepemimpinan sebagai Jalan Pengabdian

Pada akhirnya, semua jabatan akan berakhir. Yang tertinggal hanyalah jejak moral dan keberpihakan. Kekuasaan sejati bukan terletak pada lamanya memerintah, tetapi pada keberanian untuk bertanggung jawab, mendengar, dan siap turun.

Jika suatu hari rakyat memutuskan bahwa saya harus turun, maka saya akan menerimanya sebagai bagian dari demokrasi dan takdir kehidupan. Sebab bagi saya, yang paling penting bukan di mana kita duduk, tetapi kepada siapa kita berpihak: kepada kebenaran, keadilan, dan rakyat. (Obasa)



Portal Suara Academia hadir sebagai platform akademis berkualitas dengan artikel ilmiah, diskusi panel, dan ulasan buku oleh Profesional dan Akademisi terkemuka, dengan standar tinggi dan etika yang ketat.

Baca Juga :

Translate

Cari Blog Ini