Senin, 16 Februari 2026

Empat Pilar Besar Menuju Indonesia Mandiri: Dari Sawah Rakyat ke Kedaulatan Ekonomi

Empat Pilar Besar Menuju Indonesia Mandiri: Dari Sawah Rakyat ke Kedaulatan Ekonomi

Oleh: Dr. Basa Alim Tualeka, M.Si. (Obasa)


Portal Suara Academia: Indonesia tidak kekurangan tanah. Tidak kekurangan laut. Tidak kekurangan tenaga kerja. Bahkan tidak kekurangan pasar.

Yang sering kurang adalah keberanian kebijakan dan keberpihakan yang tegas kepada rakyat.

Di tengah ketidakpastian global—krisis pangan, perang dagang, fluktuasi harga energi—bangsa ini tidak boleh terus bergantung pada impor dan permainan pasar. Kita harus berdiri di atas kaki sendiri. Untuk itu, ada empat pilar besar percepatan kemandirian dan ketahanan ekonomi nasional yang harus dijalankan secara serius dan terintegrasi.

Bukan wacana. Tapi gerakan nyata.


1. Negara Menjamin Harga, Negara Menciptakan Pasar

Petani kita sering menangis saat panen raya. Harga jatuh. Tengkulak tersenyum. Rakyat kecil terhimpit.

Di sinilah negara harus hadir.

Peran Badan Urusan Logistik (Bulog) tidak boleh setengah hati. Bulog harus diperkuat menjadi stabilisator harga berbagai komoditas strategis, bukan hanya beras. Negara wajib menetapkan harga dasar yang adil—harga yang membuat petani untung, bukan sekadar bertahan hidup.

Ekonom dunia seperti Joseph Stiglitz sudah lama mengingatkan: pasar tidak selalu adil. Ada yang disebut market failure. Jika negara tidak turun tangan, yang kuat akan semakin kuat, yang lemah semakin terpinggirkan.

Menjamin harga bukan berarti anti pasar. Justru ini cara membuat pasar sehat dan berkeadilan.

Lebih dari itu, pemerintah tidak hanya menjaga harga—tetapi juga menciptakan pasar. Ekspor diperluas. Digitalisasi distribusi diperkuat. Koperasi desa dihidupkan kembali. Produk rakyat harus punya ruang di pasar nasional dan internasional.

Jika pasar diciptakan, produksi akan tumbuh. Jika produksi tumbuh, ekonomi desa bangkit.


2. Hilirisasi: Jangan Lagi Jual Mentah!

Sudah terlalu lama kita menjual bahan mentah. Jagung mentah. Ikan segar. Singkong utuh.

Nilai tambahnya dinikmati negara lain.

Kita harus berhenti menjadi bangsa penjual bahan baku.

Kebijakan hilirisasi yang digerakkan melalui Kementerian Investasi/BKPM di sektor tambang harus diperluas ke sektor pertanian dan perikanan.

Jagung harus menjadi pakan ternak.

Singkong menjadi tepung mocaf.

Ikan menjadi fillet ekspor berkualitas tinggi.

Ekonom Korea Selatan, Ha-Joon Chang, menegaskan bahwa negara berkembang tidak boleh langsung dilepas ke pasar bebas tanpa memperkuat industrinya. Hilirisasi adalah cara membangun daya saing.

Selain itu, persoalan klasik kita adalah kerusakan pasca panen. Tanpa cold storage dan gudang modern, hasil panen terbuang atau dijual murah karena takut busuk.

Solusinya jelas:

  • Bangun cold storage di sentra perikanan
  • Bangun gudang modern di sentra pertanian
  • Terapkan sistem resi gudang sebagai jaminan pembiayaan

Jika infrastruktur penyimpanan kuat, harga tidak akan jatuh saat panen raya. Petani punya waktu, bukan tekanan.


3. Pemerintah Wajib Membeli Hasil Panen Rakyat

Inilah langkah paling berani—dan paling strategis.

Negara harus menjadi pembeli terakhir (last resort buyer). Jika swasta tidak menyerap, pemerintah wajib membeli seluruh hasil panen rakyat melalui skema yang terintegrasi dengan Kementerian Pertanian Republik Indonesia dan BUMN pangan.


Mengapa ini penting?

Karena tanpa kepastian pembeli, petani tidak punya kepastian masa depan.

Pemikiran John Maynard Keynes dalam teori ekonomi modern menegaskan bahwa negara harus aktif menjaga stabilitas ekonomi. Intervensi pemerintah bukan pemborosan—melainkan investasi ketahanan.

Bayangkan jika setiap musim tanam, petani sudah tahu:

  • Harga sudah ditetapkan
  • Pemerintah siap membeli
  • Pembayaran tepat waktu

Maka produksi akan meningkat. Semangat bertani bangkit. Desa kembali hidup.

Ini bukan sosialisme. Ini strategi kedaulatan.


4. Negara dan Rakyat Membuka Lahan Baru

Penduduk bertambah. Kebutuhan pangan meningkat. Kita tidak bisa hanya mengandalkan lahan yang ada.

Namun membuka lahan bukan sekadar proyek besar tanpa rakyat. Harus berbasis partisipasi.

Program pembukaan lahan harus:

  • Mengoptimalkan lahan tidur
  • Berbasis koperasi desa
  • Disertai teknologi modern
  • Didukung kredit berbunga rendah

Pemikir besar seperti Amartya Sen menekankan bahwa pembangunan harus memberdayakan manusia, bukan sekadar membangun fisik. Rakyat harus menjadi subjek, bukan objek.

Jika pemerintah dan rakyat bergerak bersama, swasembada bukan mimpi.

Mengapa Empat Pilar Ini Mendesak?

Karena kita sedang menghadapi:

  1. Ketergantungan impor pangan
  2. Fluktuasi harga global
  3. Kartel dan mafia pangan
  4. Kesenjangan desa-kota

Jika tidak ada perubahan kebijakan yang berani, kita hanya akan menjadi pasar bagi negara lain.

Padahal Indonesia punya:

  • Tanah luas
  • Laut kaya
  • Tenaga kerja besar
  • Pasar domestik kuat

Yang kurang adalah sistem yang terintegrasi.

Dari Desa Menuju Kedaulatan

Empat pilar ini bukan sekadar kebijakan ekonomi. Ini gerakan kebangsaan.

Harga dijamin → Petani percaya diri.

Industri dibangun → Nilai tambah meningkat.

Panen diserap → Produksi stabil.

Lahan dibuka → Ketahanan terjaga.

Jika dijalankan konsisten, dampaknya luar biasa:

  • Impor berkurang drastis
  • Pendapatan desa meningkat
  • Kemiskinan struktural menurun
  • Ekonomi nasional menguat

Dan yang terpenting: rakyat merasakan kehadiran negara.


Rekomendasi Tegas dan Terukur

Agar tidak berhenti sebagai wacana, berikut langkah konkret:

  1. Reformasi total tata niaga pangan nasional.
  2. Perluasan mandat Bulog sebagai stabilisator multi-komoditas.
  3. Hilirisasi berbasis industri daerah dan koperasi.
  4. Skema kontrak pembelian hasil panen sebelum musim tanam.
  5. Pembangunan cold storage dan gudang modern di seluruh sentra produksi.
  6. Program pembukaan lahan berbasis partisipasi masyarakat.
  7. Digitalisasi distribusi dan stok pangan nasional secara transparan.

Tanpa keberanian politik, semua ini hanya akan menjadi seminar dan diskusi.


Penutup: Saatnya Berani

Kemandirian bukan slogan.

Ketahanan bukan retorika.

Ekonomi berdaulat bukan mimpi.

Indonesia bisa menjadi lumbung pangan Asia. Indonesia bisa menjadi pusat industri berbasis komoditas. Indonesia bisa mandiri.

Syaratnya satu: negara hadir, tegas, dan berpihak kepada rakyat.

Karena ketika sawah rakyat kuat, negara pun kokoh.

Dan ketika desa bangkit, Indonesia tidak lagi bergantung—Indonesia memimpin.



Portal Suara Academia hadir sebagai platform akademis berkualitas dengan artikel ilmiah, diskusi panel, dan ulasan buku oleh Profesional dan Akademisi terkemuka, dengan standar tinggi dan etika yang ketat.

Baca Juga :

Translate

Cari Blog Ini