Rabu, 01 Januari 2025

PEMIMPIN CERDAS, TINGGALKAN AKAL LICIK

Hikmah dan Perspektif Akal Sehat dalam Kehidupan: Pilar Kedamaian dan Keharmonisan

Oleh : Basa Alim Tualeka (Obasa).


Puisi :

"Akal Sehat dan Kedamaian"

Dalam riuhnya dunia yang penuh hiruk,
Akal sehat bagaikan pelita di kegelapan,
Menuntun langkah menuju kebenaran,
Menjaga hati dari kebencian dan kezaliman.

Pemimpin sejati, berjiwa besar,
Berpikir bijak, tak tunduk pada nafsu,
Melayani rakyat dengan tulus dan sabar,
Membangun harmoni dengan cinta yang utuh.

Namun, akal licik bagai duri di ladang,
Menusuk perlahan, membawa kehancuran,
Menebar tipu daya, merusak kepercayaan,
Menghimpun kebencian dalam hati yang pilu.

Wahai manusia, pilihlah jalan terang,
Tinggalkan licik, peluklah akal sehat,
Hidupkan kasih dalam setiap langkah,
Agar dunia menjadi teduh dan penuh rahmat.

Karena kedamaian tumbuh dari bijaknya pikiran,
Keharmonisan lahir dari hati yang bersih,
Dan akal sehat adalah titian hidup,
Menuju ridha Ilahi dan kebahagiaan abadi. (Obasa). 


Pendahuluan

Akal merupakan anugerah terbesar yang diberikan Allah SWT kepada manusia untuk membedakan kebenaran dari kebatilan. Penggunaan akal sehat dalam kehidupan sehari-hari dapat menciptakan kedamaian, keharmonisan, dan keadilan, sedangkan penyalahgunaan akal melalui tipu daya dan licik akan menghasilkan kebencian, perpecahan, dan konflik. Dalam konteks kepemimpinan, akal sehat menjadi landasan utama bagi seorang pemimpin untuk menjalin hubungan yang erat dengan rakyat, membangun kebijakan yang adil, dan menghindari tindakan manipulatif yang merugikan masyarakat.

Pemimpin yang merakyat adalah figur yang mendengarkan aspirasi rakyatnya, berempati terhadap penderitaan mereka, dan mengambil keputusan berdasarkan prinsip keadilan dan kesejahteraan bersama. Dengan akal sehat, ia menciptakan stabilitas sosial, menjaga kepercayaan rakyat, dan menjadi teladan dalam menjalankan amanah.

Filosofi kehidupan menekankan bahwa akal sehat adalah kompas moral yang membawa manusia kepada kebenaran dan tanggung jawab. Sementara itu, akal licik, meski tampak menguntungkan dalam jangka pendek, hanya akan menghasilkan kerusakan dan kehancuran. Oleh karena itu, penggunaan akal sehat dalam kepemimpinan tidak hanya menciptakan kehidupan yang damai dan harmonis, tetapi juga menjadi jalan menuju keberkahan dunia dan akhirat.

Jadi, Akal merupakan karunia Allah SWT yang memungkinkan manusia untuk berpikir, menganalisis, dan mengambil keputusan. Dalam kehidupan, penggunaan akal sehat menjadi fondasi utama dalam menciptakan kedamaian, keharmonisan, dan kesejahteraan bersama. Sebaliknya, penyalahgunaan akal melalui cara-cara licik dan manipulatif akan menimbulkan masalah, kebencian, dan perpecahan. Dalam konteks kepemimpinan, pemimpin yang berakal sehat dan merakyat adalah simbol ideal dari kehidupan yang berlandaskan keadilan dan kebenaran.


Hikmah Akal Sehat dalam Kehidupan

1. Pilar Kedamaian dan Keharmonisan

Akal sehat mendorong seseorang untuk berpikir jernih, bijak, dan bertindak adil. Filosofi hidup dengan akal sehat mengajarkan manusia untuk mencari solusi yang membawa manfaat bagi semua pihak. Dalam Islam, prinsip keadilan menjadi inti akal sehat, sebagaimana firman Allah SWT:

Dan janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa.” (QS. Al-Maidah: 8)

2. Memupuk Rasa Empati dan Pengertian

Filosofi kehidupan menekankan pentingnya empati sebagai bagian dari akal sehat. Dengan memahami sudut pandang orang lain, manusia dapat menjalin hubungan yang harmonis dan menghindari konflik yang tidak perlu.

3. Menghormati Perbedaan

Akal sehat menuntun manusia untuk memahami bahwa kehidupan adalah tentang keragaman. Kehidupan yang harmonis tercipta ketika perbedaan dihargai, bukan dijadikan alasan untuk perpecahan.


Dampak Negatif Akal Licik

1. Menghancurkan Kepercayaan

Akal licik sering kali digunakan untuk memanipulasi dan mengambil keuntungan secara tidak adil. Hal ini tidak hanya merugikan pihak lain, tetapi juga menghancurkan kepercayaan yang merupakan fondasi utama dalam hubungan sosial.

2. Memupuk Kebencian dan Perpecahan

Dalam kehidupan bermasyarakat, penggunaan akal licik menciptakan konflik dan permusuhan. Akal licik memperkuat egoisme, sehingga mendorong manusia untuk mendahulukan kepentingan pribadi di atas kepentingan bersama.

3. Kehidupan yang Penuh Kekacauan

Filosofi kehidupan mengajarkan bahwa segala sesuatu yang diperoleh dengan cara yang tidak jujur akan membawa ketidaktenangan. Akal licik, meski memberikan keuntungan sesaat, akhirnya hanya membawa kerugian dan kehancuran.


Pemimpin yang Merakyat: Akal Sehat sebagai Fondasi

Pemimpin yang menggunakan akal sehat tidak hanya memastikan kestabilan dan kesejahteraan masyarakat, tetapi juga menjadi teladan dalam kehidupan yang bermartabat. Filosofi kepemimpinan yang berlandaskan akal sehat meliputi:

1. Membangun Keadilan Sosial

Pemimpin yang sehat akalnya akan berpikir rasional dan bijaksana dalam mengambil keputusan. Filosofi ini mencakup pemahaman bahwa setiap kebijakan harus adil, seimbang, dan mengutamakan kepentingan rakyat.

2. Menumbuhkan Kedekatan dengan Rakyat

Pemimpin yang merakyat tidak hanya memerintah, tetapi juga mendengar dan memahami kebutuhan rakyatnya. Dengan akal sehat, ia menjalin hubungan emosional yang kuat dan menciptakan rasa persatuan.

3. Menghindari Akal Licik dan Tipu Daya

Filosofi kehidupan menolak segala bentuk manipulasi dan tipu daya dalam kepemimpinan. Pemimpin yang jujur akan meninggalkan akal licik, karena ia memahami bahwa kekuasaan adalah amanah, bukan kesempatan untuk memperkaya diri sendiri.


Filosofi Kehidupan: Akal sebagai Kompas Moral

1. Akal Sehat untuk Menuntun Kebenaran

Filosofi kehidupan yang sejati adalah menggunakan akal sebagai kompas untuk membedakan mana yang benar dan salah. Akal sehat menjadikan manusia lebih manusiawi, adil, dan bijaksana.

2. Kesadaran akan Pertanggungjawaban

Setiap tindakan yang dilakukan berdasarkan akal sehat mengandung kesadaran bahwa segala sesuatu akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT. Dalam Islam, pemimpin yang adil dijanjikan posisi mulia di akhirat.

3. Menciptakan Kehidupan Bermakna

Akal sehat mengajarkan bahwa tujuan hidup bukanlah keuntungan materi semata, melainkan kedamaian hati, keharmonisan sosial, dan ridha Ilahi. Filosofi ini menjadikan hidup lebih bermakna dan bahagia.


Kesimpulan

Penggunaan akal sehat adalah kunci untuk menciptakan kedamaian, keharmonisan, dan keadilan dalam kehidupan. Sebaliknya, akal licik hanya akan membawa kebencian, konflik, dan kehancuran. Dalam kepemimpinan, seorang pemimpin yang merakyat harus mengedepankan akal sehat untuk menjaga kepercayaan rakyat dan menciptakan kehidupan yang lebih baik bagi semua.

Filosofi kehidupan mengajarkan bahwa kekuasaan, harta, dan kedudukan adalah sementara. Hanya amal baik yang akan kekal. Dengan meninggalkan akal licik dan melanjutkan dengan akal sehat, seorang pemimpin dapat membawa masyarakat menuju kehidupan yang damai, adil, dan sejahtera di dunia serta keberkahan di akhirat. (Alim Academia)



Portal Suara Academia hadir sebagai platform akademis berkualitas dengan artikel ilmiah, diskusi panel, dan ulasan buku oleh Profesional dan Akademisi terkemuka, dengan standar tinggi dan etika yang ketat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Baca Juga :

Translate

Cari Blog Ini