Rabu, 17 Desember 2025

KISAH WAHID NUR TUALEKA & I.M. TSALITSAH KEDUANYA DINYATAKAN LULUS

Perjalanan Panjang Meraih Doktor: Kisah Niat, Usaha Maksimal, dan Doa Suami Istri Membangun Peradaban Ilmu

Oleh: Basa Alim Tualeka (Obasa). 


Portal Suara Academia:  Menapaki jalan ilmu bukanlah perjalanan pendek dan mudah. Ia adalah jalan panjang yang dipenuhi kesabaran, keikhlasan, ketekunan, serta doa yang tak pernah putus. Tidak semua orang berani memasuki jalan sunyi ini; hanya mereka yang memiliki komitmen jiwa, visi hidup, dan semangat berjuang yang mampu bertahan sampai akhir. Di antara mereka ada pasangan suami istri yang luar biasa—Mohammad Wahid Nur Tualeka dan istri tercinta Imtihanatul Ma’isyatuts Tsalitsah—dua jiwa yang melangkah bersama dalam satu niat, satu perjuangan, dan satu tujuan besar: menjadi doktor demi kemajuan ilmu dan umat.

Pada akhirnya, berkat niat yang tulus, kerja keras yang tak kenal waktu, dan doa yang senantiasa dipanjatkan, perjalanan panjang itu berbuah manis. InsyaAllah pada hari Kamis, 18 Desember 2025, pasangan ini akan menjalani Ujian Terbuka Doktor di Universitas Muhammadiyah, sebagai puncak dari seluruh jerih payah mereka. Sebuah momen sakral yang tidak hanya mengukuhkan pencapaian akademik, tetapi juga menandai kemenangan spiritual atas segala rintangan yang telah dilewati.


1. Awal Perjalanan: Niat yang Menyatu dalam Rumah Tangga Ilmu

Tidak ada perjuangan besar tanpa niat yang besar pula. Sejak awal, Wahid dan istrinya menyadari bahwa dunia akademik bukan sekadar tempat mencari gelar, tetapi medan pengabdian untuk membangun peradaban.

Niat mereka sederhana namun kuat:

menuntut ilmu bukan untuk kemewahan, melainkan untuk memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi umat, masyarakat, dan generasi mendatang.

Dalam rumah tangganya, diskusi ilmiah adalah denyut keseharian. Ide-ide sering muncul saat sarapan, analisis teori berkembang saat perjalanan pagi, dan malam hari menjadi waktu terbaik untuk menguji gagasan-gagasan baru. Mereka bukan hanya pasangan suami istri; mereka adalah teman seperjuangan, rekan berpikir, dan mitra intelektual.

Betapa jarangnya pasangan yang bisa melangkah bersama dalam satu idealisme ilmu. Namun mereka membuktikan bahwa rumah tangga adalah "pesantren kecil" yang memupuk jiwa belajar, serta laboratorium kedisiplinan dan kesabaran.


2. Disertasi Suami: Menyelami Moderasi Beragama dan Dakwah Elite Muhammadiyah

Disertasi Mohammad Wahid Nur Tualeka berjudul:

“Internalisasi Moderasi Beragama: Studi Dakwah Elite Muhammadiyah Surabaya.”

Tema ini bukan hanya aktual, tetapi juga strategis bagi masa depan kehidupan beragama di Indonesia. Di tengah dinamika sosial, munculnya kelompok-kelompok ekstrem, dan tantangan multikulturalisme, moderasi beragama menjadi kebutuhan mendesak.

Dakwah elite Muhammadiyah dipilih karena menjadi teladan bagi gerakan Islam berkemajuan. Penelitian ini menyentuh area sensitif tetapi penting:

  • bagaimana elite Muhammadiyah memahami moderasi,
  • bagaimana mereka menginternalisasikannya dalam pemikiran dan perilaku,
  • serta bagaimana nilai itu mengalir ke umat melalui dakwah, pendidikan, dan gerakan sosial.

Disertasi ini bukan hanya menambah khazanah akademik, tetapi juga memberi kontribusi besar bagi upaya memperkuat harmoni dan toleransi di Indonesia.

Wahid tidak hanya menulis, ia hidup dalam nilai-nilai itu. Setiap bab disertasi adalah refleksi atas perjalanan spiritual dan intelektualnya sendiri.


3. Disertasi Istri: Integrasi Ilmu Islam dan Psikologi di Era Multidisipliner

Sementara itu, sang istri, Imtihanatul Ma’isyatuts Tsalitsah, meneliti bidang yang sangat penting bagi masa depan pendidikan Islam:

“Pengembangan Bahan Ajar Pembelajaran Integratif Multidisipliner pada Mata Kuliah Al-Islam dan Kemuhammadiyahan dengan Ilmu Psikologi di Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Surabaya.”

Karya ini adalah terobosan. Era sekarang menuntut integrasi ilmu. Al-Islam dan Kemuhammadiyahan tidak lagi dipahami sebagai mata kuliah normatif, tetapi harus mampu terhubung dengan sains modern, khususnya psikologi.


Penelitian ini:

  • mengembangkan model bahan ajar multidisipliner,
  • memadukan nilai-nilai keislaman dengan pendekatan psikologis,
  • memberikan pola baru yang lebih humanis, rasional, dan relevan bagi mahasiswa.


Di tangan Imtihanatul, ilmu Islam dipertemukan dengan psikologi sehingga lebih mudah dipahami dan lebih dekat dengan realitas kehidupan mahasiswa. Inilah pendidikan Islam berkemajuan yang sejalan dengan visi Muhammadiyah.


4. Perjuangan yang Tidak Mudah: Antara Rumah Tangga, Karier, dan Disertasi

Menempuh doktor sebagai individu saja sudah berat; melakukannya sebagai suami-istri pada waktu bersamaan jauh lebih berat.

Mereka menghadapi:

  • berlapis-lapis revisi,
  • tekanan akademik,
  • jadwal bimbingan yang tidak menentu,
  • kesibukan pekerjaan,
  • tanggung jawab keluarga,
  • dan lelah fisik yang tak terhindarkan.


Namun, keduanya saling menguatkan.

Ketika salah satunya lelah, yang lain menjadi penopang.

Ketika semangat mulai menurun, pasangannya hadir memberi energi mental.

Ilmu di dalam rumah mereka bukan sekadar teori; ia adalah perjalanan emosional dan spiritual yang menyatukan hati.

Mereka membuktikan bahwa perjuangan akademik adalah ibadah panjang, dan rumah tangga bisa menjadi ladang pahala ilmu jika dijalani dengan niat yang benar.


5. Nilai-nilai yang Mengiringi: Keikhlasan, Kesabaran, dan Tawakal

Setiap perjalanan ilmu membutuhkan fondasi moral.

Keikhlasan

Mengarahkan tujuan kepada kemaslahatan umat dan perbaikan diri. Gelar doktor hanyalah bonus.

Kesabaran

Bab yang direvisi berkali-kali, data yang harus dikumpulkan ulang, dan bimbingan yang sering berubah arah membutuhkan hati yang luas.

Tawakal

Setelah usaha maksimal, mereka serahkan hasilnya kepada Allah, yakin bahwa tiada amal yang sia-sia.

Ketiganya menjadi kekuatan batin yang membuat mereka akhirnya mencapai titik final.


6. Dukungan Keluarga dan Dosen Pembimbing

Di balik keberhasilan akademik, ada peran besar para pembimbing yang sabar dan teliti, keluarga yang selalu mendoakan, dan teman-teman seperjuangan yang menjadi sumber inspirasi.

Orang tua, saudara, dan lingkungan akademik memberikan kehangatan mental yang membuat perjalanan tidak terasa terlalu berat. Doa orang tua, khususnya, menjadi bahan bakar spiritual bagi perjuangan mereka.


7. Makna Besar dari Ujian Terbuka 18 Desember 2025

Tanggal ini tidak hanya menjadi momen akademik, tetapi:

  • simbol kemenangan atas ujian mental dan spiritual,
  • rekam jejak perjuangan yang akan dikenang sepanjang hidup,
  • dan pintu menuju pengabdian yang lebih luas.

Mereka akan bergelar doktor, namun lebih dari itu, mereka telah menjadi teladan bahwa rumah tangga ilmiah bisa melahirkan karya besar bagi umat.


8. Kontribusi Ke Depan: Doktor untuk Peradaban

Setelah resmi menjadi doktor, Wahid dan istrinya akan memiliki tanggung jawab baru:

  1. mengembangkan moderasi beragama sebagai fondasi masyarakat multikultur,
  2. membangun integrasi ilmu agar pendidikan Islam semakin maju,
  3. melahirkan generasi muda berwawasan luas,
  4. berkontribusi pada riset, dakwah, dan kebijakan akademik,
  5. menjadi teladan bagi pasangan muda bahwa perjalanan ilmu bisa ditempuh bersama.

Gelar doktor bukanlah akhir, tetapi awal dari pengabdian yang lebih besar.


9. Penutup: Ilmu Adalah Jalan Panjang yang Penuh Cahaya

Perjalanan Wahid dan Imtihanatul membuktikan bahwa:

  • niat yang baik akan dibukakan jalannya,
  • usaha maksimal akan berbalas,
  • doa akan menguatkan,

dan pasangan yang saling mendukung mampu menaklukkan tantangan sebesar apa pun.


Pada akhirnya, ilmu bukan hanya soal kecerdasan, tetapi tentang keistiqamahan. Dan mereka berdua telah mencontohkannya secara nyata.

Semoga perjalanan mereka menginspirasi semua keluarga untuk menjadikan rumah sebagai pusat ilmu, dan menjadikan ilmu sebagai jalan menuju keberkahan hidup.

Selamat menempuh Ujian Terbuka Doktor, 18 Desember 2025.

Semoga Allah melapangkan jalan, memberi keberkahan, dan menjadikan ilmu mereka cahaya bagi peradaban.



Portal Suara Academia hadir sebagai platform akademis berkualitas dengan artikel ilmiah, diskusi panel, dan ulasan buku oleh Profesional dan Akademisi terkemuka, dengan standar tinggi dan etika yang ketat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Baca Juga :

Translate

Cari Blog Ini