Kritik atas Pernyataan Bahlil Bahwa Sekolah Tidak Menjamin Kualitas Seseorang
Oleh: Dr. Basa Alim Tualeka, MSi, (Obasa)
1. Pernyataan yang Memicu Perdebatan
Portal Suara Academia: Pernyataan dari Bahlil Lahadalia bahwa “sekolah tidak menjamin kualitas seseorang, yang menjamin kualitas seseorang adalah orang itu sendiri” memunculkan perdebatan di kalangan masyarakat, akademisi, dan praktisi pendidikan. Kalimat tersebut memang terdengar sederhana dan inspiratif, namun jika dikaji secara mendalam dari perspektif ilmu pendidikan dan filsafat pendidikan, pernyataan tersebut memiliki kelemahan logika yang cukup serius.
Dalam diskursus pendidikan modern, kualitas manusia tidak pernah dipahami sebagai hasil dari satu faktor saja. Ia merupakan kombinasi dari pendidikan, lingkungan sosial, sistem nilai, dan usaha pribadi. Mengabaikan peran sekolah berarti mengabaikan salah satu institusi utama yang selama berabad-abad menjadi pusat pembentukan peradaban manusia.
2. Sekolah sebagai Institusi Peradaban
Sejak masa klasik hingga modern, sekolah hadir sebagai lembaga yang mentransmisikan ilmu pengetahuan, nilai moral, dan budaya dari satu generasi ke generasi berikutnya. Tanpa sistem pendidikan yang terorganisir, manusia akan kesulitan mengembangkan ilmu pengetahuan secara sistematis.
Filosof pendidikan Yunani, Aristotle, pernah menegaskan bahwa pendidikan adalah proses membentuk kebiasaan berpikir dan bertindak yang baik dalam kehidupan masyarakat. Dalam pandangan ini, pendidikan bukan hanya soal kecerdasan individu, tetapi juga pembentukan karakter sosial.
Jika sekolah dianggap tidak menentukan kualitas manusia, maka secara tidak langsung kita juga meragukan fungsi pendidikan sebagai penyangga utama peradaban manusia.
3. Pandangan Pakar Pendidikan Modern
Banyak pakar pendidikan dunia menegaskan bahwa kualitas manusia tidak lahir secara spontan, tetapi melalui proses pendidikan yang sistematis.
Filsuf pendidikan Amerika, John Dewey, menyatakan bahwa pendidikan adalah proses rekonstruksi pengalaman manusia secara terus-menerus. Sekolah menjadi tempat di mana seseorang belajar berpikir kritis, bekerja sama, serta memahami realitas sosial secara rasional.
Sementara itu, tokoh pendidikan kritis dari Brasil, Paulo Freire, menegaskan bahwa pendidikan adalah alat pembebasan manusia dari kebodohan dan ketidakadilan struktural. Menurut Freire, tanpa pendidikan yang baik, manusia akan mudah terjebak dalam sistem sosial yang menindas.
Pandangan para pakar ini menunjukkan bahwa pendidikan bukan sekadar formalitas, melainkan alat transformasi sosial yang sangat menentukan kualitas manusia.
4. Sekolah Bukan Satu-satunya Faktor, Tetapi Sangat Penting
Memang harus diakui bahwa sekolah bukan satu-satunya faktor yang menentukan kesuksesan seseorang. Banyak tokoh dunia yang sukses meskipun tidak berasal dari sekolah elit.
Namun fakta tersebut tidak bisa dijadikan alasan untuk menyimpulkan bahwa sekolah tidak penting. Kesuksesan individu yang terjadi di luar sistem pendidikan formal sering kali merupakan pengecualian, bukan aturan umum.
Dalam ilmu statistik sosial, kesimpulan yang diambil dari pengecualian sering disebut sebagai fallacy of anecdotal evidence, yaitu kesalahan berpikir yang mengambil contoh kecil untuk menggambarkan keseluruhan realitas.
Dalam kenyataannya, negara-negara dengan kualitas manusia tinggi selalu memiliki sistem pendidikan yang kuat.
5. Bukti Empiris dari Negara Maju
Negara seperti Finlandia sering dijadikan contoh keberhasilan sistem pendidikan dunia. Di negara tersebut, guru adalah profesi yang sangat dihormati dan sistem sekolah dirancang untuk membangun kreativitas serta kemampuan berpikir kritis.
Demikian pula di Jepang dan Korea Selatan, pendidikan menjadi prioritas utama dalam pembangunan nasional. Hasilnya terlihat jelas dalam kualitas sumber daya manusia yang tinggi, disiplin masyarakat, serta kemajuan teknologi.
Fakta ini menunjukkan bahwa sekolah memiliki kontribusi besar terhadap kualitas manusia dan kemajuan bangsa.
6. Filosofi Pendidikan: Antara Individu dan Sistem
Dalam filsafat pendidikan, kualitas manusia dipandang sebagai hasil interaksi antara potensi individu dan sistem pendidikan yang mendukungnya.
Filsuf pendidikan Amerika lainnya, Mortimer Adler, menyatakan bahwa pendidikan memiliki dua fungsi utama: mengembangkan potensi intelektual manusia dan menyiapkan warga negara yang bertanggung jawab.
Artinya, pendidikan tidak hanya membentuk individu yang cerdas, tetapi juga masyarakat yang beradab.
Jika seseorang memiliki potensi besar tetapi tidak mendapatkan pendidikan yang baik, maka potensi tersebut bisa saja tidak berkembang secara optimal.
7. Bahaya Retorika Populisme Pendidikan
Pernyataan yang meremehkan peran sekolah sering kali muncul dalam retorika populis yang ingin menunjukkan bahwa kesuksesan hanya bergantung pada kerja keras individu.
Padahal pendekatan semacam ini bisa berbahaya karena:
- Mengurangi kepercayaan masyarakat terhadap institusi pendidikan.
- Melemahkan posisi guru sebagai pilar pembangunan bangsa.
- Menurunkan motivasi generasi muda untuk menempuh pendidikan tinggi.
Padahal sejarah menunjukkan bahwa bangsa yang maju adalah bangsa yang menghargai pendidikan.
8. Pendidikan dan Pembentukan Karakter
Sekolah juga memiliki peran penting dalam membentuk karakter manusia. Di dalam sekolah, seseorang belajar tentang disiplin, tanggung jawab, kerja sama, serta etika sosial.
Proses ini tidak selalu bisa diperoleh secara optimal hanya melalui pengalaman hidup tanpa pendidikan formal.
Karena itu, dalam banyak teori pendidikan modern, sekolah dipandang sebagai laboratorium sosial di mana generasi muda belajar memahami kehidupan bersama.
9. Kesimpulan: Sinergi antara Individu dan Pendidikan
Kualitas manusia memang tidak hanya ditentukan oleh sekolah. Usaha pribadi, lingkungan keluarga, dan pengalaman hidup juga memainkan peran penting.
Namun menyatakan bahwa sekolah tidak menjamin kualitas manusia adalah penyederhanaan yang berlebihan terhadap realitas pendidikan.
Yang lebih tepat adalah mengatakan bahwa kualitas manusia lahir dari sinergi antara potensi individu dan sistem pendidikan yang baik.
Sekolah mungkin bukan satu-satunya faktor yang menentukan masa depan seseorang, tetapi tanpa pendidikan yang kuat, sulit bagi sebuah bangsa untuk membangun peradaban yang maju.
Dalam perspektif pembangunan nasional, memperkuat sistem pendidikan tetap menjadi investasi paling strategis untuk masa depan bangsa. Sebab dari sekolah yang baik akan lahir generasi yang berilmu, berkarakter, dan mampu memimpin peradaban menuju masa depan yang lebih baik. (Obasa)
Portal Suara Academia hadir sebagai platform akademis berkualitas dengan artikel ilmiah, diskusi panel, dan ulasan buku oleh Profesional dan Akademisi terkemuka, dengan standar tinggi dan etika yang ketat.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar