Menemukan Kearifan dalam Hidup dan Kehidupan prospektif islam
Oleh : Basa Alim Tualeka (obasa).
Puisi Kehidupan:
"Akal, Hati, dan Cahaya"
Pendahuluan
Portal Suara Academia: Dalam hidup dan kehidupan, manusia selalu mencari jalan menuju kebahagiaan, ketenangan, dan keberkahan. Bukan hanya melalui harta, jabatan, atau kekuasaan, melainkan lewat kebijaksanaan dalam berpikir, bersikap, dan berperilaku. Kata-kata bijak yang sederhana sering kali menyimpan makna filosofis yang dalam, bahkan selaras dengan nilai-nilai yang diajarkan Islam.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Sesungguhnya aku diutus hanya untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.” (HR. Ahmad)
Oleh karena itu, kata-kata bijak yang kita renungkan berikut tidak sekadar petuah duniawi, tetapi menjadi pedoman akhlak Islami yang relevan sepanjang zaman.
Pembahasan Filosofis, Dalil, dan Praktik dalam Kehidupan
1. "Akal sehat dapat menciptakan kedamaian dan kerukunan"
Makna Filosofi: Akal sehat adalah cahaya dari Allah untuk membedakan yang benar dan salah. Dengan akal sehat, lahirlah keputusan adil yang mendamaikan.
Dalil: “Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.” (QS. Ar-Rum: 21)
Contoh: Musyawarah keluarga atau masyarakat yang dijalankan dengan akal sehat melahirkan kedamaian.
Teladan: Khalifah Umar bin Khattab r.a. menggunakan akal sehat dalam kepemimpinannya, hingga tercipta keadilan dan kerukunan di tengah umat.
Rekomendasi: Gunakan akal sehat sebelum mengambil keputusan, hindari emosi, dan utamakan maslahat bersama.
2. "Akal licik dapat menciptakan masalah dan kebencian"
Makna Filosofi: Kecerdikan yang digunakan untuk menipu akan berbuah masalah.
Dalil: Rasulullah ﷺ bersabda: “Barang siapa menipu kami, maka ia bukan dari golongan kami.” (HR. Muslim)
Contoh: Pemimpin yang licik hanya menimbulkan kebencian rakyat.
Teladan: Abu Jahal dikenal sebagai tokoh cerdas tetapi licik, sehingga dikenang dengan kebencian.
Rekomendasi: Gunakan kecerdasan untuk kebaikan, bukan tipu daya.
3. "Pikiran bersih merupakan alat komunikasi yang paling utama dalam pergaulan"
Makna Filosofi: Pikiran bersih melahirkan komunikasi yang jujur dan menyejukkan.
Dalil: “Dan katakanlah kepada hamba-hamba-Ku: hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik.” (QS. Al-Isra: 53)
Contoh: Dalam organisasi, pemimpin dengan pikiran bersih bisa menyatukan perbedaan.
Teladan: Ali bin Abi Thalib r.a. dikenal sebagai pemikir jernih, sehingga petuahnya masih relevan hingga kini.
Rekomendasi: Hindari ghibah, fitnah, dan prasangka buruk; latih diri untuk berpikir positif.
4. "Murah hati, maka kita akan selalu murah rezeki"
Makna Filosofi: Kedermawanan justru melipatgandakan rezeki.
Dalil: Rasulullah ﷺ bersabda: “Sedekah tidak akan mengurangi harta.” (HR. Muslim)
Contoh: Banyak pengusaha sukses justru karena rajin berbagi.
Teladan: Utsman bin Affan r.a. terkenal dermawan; ia menyumbangkan sumur dan hartanya untuk umat.
Rekomendasi: Biasakan sedekah harian, meski sedikit, karena berbagi adalah kunci keberkahan.
5. "Rendah hati, maka kita akan selalu disegani"
Makna Filosofi: Rendah hati (tawadhu’) adalah kekuatan yang membuat orang lain segan.
Dalil: Rasulullah ﷺ bersabda: “Tidaklah seseorang bersikap tawadhu’ karena Allah melainkan Allah akan meninggikan derajatnya.” (HR. Muslim)
Contoh: Pemimpin yang rendah hati akan dicintai rakyat.
Teladan: Abu Bakar Ash-Shiddiq r.a. meski menjadi khalifah, tetap hidup sederhana.
Rekomendasi: Jangan sombong atas prestasi; ingat bahwa semua hanyalah titipan Allah.
6. "Selalu jujur, maka kita akan selalu dipercaya"
Makna Filosofi: Kejujuran adalah fondasi kepercayaan.
Dalil: Rasulullah ﷺ bersabda: “Hendaklah kalian berlaku jujur, karena kejujuran membawa kepada kebaikan, dan kebaikan membawa ke surga.” (HR. Bukhari & Muslim)
Contoh: Pedagang yang jujur memiliki pelanggan setia.
Teladan: Rasulullah ﷺ dikenal sebagai Al-Amin (yang terpercaya) sejak muda.
Rekomendasi: Terapkan kejujuran dalam semua aspek, dari ucapan hingga bisnis.
7. "Konon sebelum api ditemukan, abang ini sudah menyala"
Makna Filosofi: Kalimat metaforis tentang semangat dan kepeloporan.
Dalil: “Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga...” (QS. Ali Imran: 133)
Contoh: Para penemu dan ulama besar Islam seperti Ibnu Sina dan Al-Khawarizmi jauh mendahului zamannya.
Teladan: Khalid bin Walid r.a. dikenal sebagai pedang Allah yang selalu menyala dalam jihad.
Rekomendasi: Jadilah pionir dalam kebaikan, jangan takut berbeda bila benar.
8. "Moto hidup itu, orang lain maka saya pasti bisa"
Makna Filosofi: Optimisme dan keyakinan diri adalah kunci kesuksesan.
Dalil: “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” (QS. Ar-Ra’d: 11)
Contoh: Banyak orang sederhana sukses karena percaya diri dan kerja keras.
Teladan: Bilal bin Rabah r.a., budak yang hina, mampu menjadi salah satu sahabat mulia karena iman dan optimisme.
Rekomendasi: Jangan minder; jika orang lain bisa sukses, maka kita pun bisa dengan usaha, doa, dan tawakkal.
Kesimpulan
Kata-kata bijak di atas sejatinya bukan sekadar pepatah, tetapi merupakan filosofi hidup yang selaras dengan nilai-nilai Islam. Akal sehat, kejujuran, kerendahan hati, kedermawanan, optimisme, dan semangat adalah pilar yang membangun kehidupan damai dan bermartabat.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya.” (HR. Tirmidzi)
Dengan menjalankan petuah bijak ini, kita tidak hanya meraih kesuksesan dunia, tetapi juga kemuliaan di akhirat. (Alim Academia)
Portal Suara Academia hadir sebagai platform akademis berkualitas dengan artikel ilmiah, diskusi panel, dan ulasan buku oleh Profesional dan Akademisi terkemuka, dengan standar tinggi dan etika yang ketat.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar