Selasa, 09 September 2025

RESHUFFLE ATAU PEMECATAN ?

Hikmah Nasihat Abu Nawas untuk Raja Harun Al Rasyid dan Relevansinya di Indonesia

Oleh : Basa Alim Tualeka (obasa) 


Puisi: 

"Pakaian Sang Raja"

Di istana Baghdad yang megah berdiri,
Harun Al Rasyid duduk menimbang hati,
Para pembantu menghadap penuh janji,
Namun sebagian bermuka dua, licin bersandi.

“Wahai Abu Nawas, sahabatku setia,
Ada yang bersuara manis namun berkhianat nyata,
Ada yang tunduk, tapi menunggu matahari baru menyala,
Apa yang harus kulakukan, agar istana tak binasa?”

Abu Nawas tersenyum, dengan kata sederhana,
“Baginda, pembantu ibarat pakaian kita.
Jika hanya berdebu, cuci dan segarkanlah,
Namun bila robek, aibnya tak bisa ditutupi lagi—buanglah.”

Reshuffle adalah cuci, memberi harapan,
Kesempatan kedua agar kinerja bertahan,
Pemecatan adalah pisau keadilan,
Membuang penyakit yang merusak zaman.

Wahai para pemimpin yang mendengar kisah ini,
Belajarlah dari Abu Nawas yang bijak hati,
Jangan salah memilih pakaian diri,
Sebab robeknya kain, bisa menelanjangi negeri. (Obasa). 


Pendahuluan

Portal Suara Academia: Sejarah peradaban Islam mencatat masa keemasan di bawah kepemimpinan Khalifah Harun Al Rasyid (786–809 M). Pada masa itu, istana Abbasiyah di Baghdad bukan hanya pusat pemerintahan, tetapi juga pusat ilmu pengetahuan, filsafat, dan kebudayaan. Di balik kebesaran sang khalifah, hadir seorang tokoh unik bernama Abu Nawas. Ia bukan pejabat, bukan ulama besar, tetapi seorang penyair dan filsuf yang cerdas, kritis, sekaligus jenaka. Abu Nawas sering menjadi “cermin” bagi sang khalifah untuk menimbang kebenaran, terutama ketika berhadapan dengan para pembantu yang tidak selalu jujur.

Salah satu kisah yang penuh hikmah adalah ketika Harun Al Rasyid bertanya kepada Abu Nawas mengenai sikap yang harus ia ambil terhadap para pembantu yang bermuka dua, bermain aman dengan “matahari baru”, atau bahkan berkhianat. Apakah cukup dilakukan reshuffle (perombakan) atau harus diputuskan dengan pemecatan?


Kisah dan Dialog

Dalam sebuah pertemuan pribadi, Harun Al Rasyid berkata:

"Wahai sahabatku Abu Nawas, aku melihat di antara para pembantuku ada yang bermuka dua; di hadapanku mereka tunduk, tetapi di belakangku mereka merancang kepentingan sendiri. Ada pula yang hanya pintar bersilat lidah, dan ada yang mengikuti matahari baru yang sedang bersinar, seakan lupa siapa tuannya. Bagaimana aku harus bersikap? Apakah cukup aku merombak mereka atau aku harus memecat sebagian?"


Abu Nawas tersenyum penuh arti lalu menjawab:

"Wahai Baginda, para pembantu itu ibarat pakaian. Jika pakaian hanya berdebu, cukup dicuci agar bersih kembali. Tetapi bila pakaian itu robek, lusuh, dan menjadi aib bagi tuannya, maka harus diganti dengan yang baru. Begitulah pula dengan para pembantu: yang masih bisa diperbaiki, cukup di-reshuffle. Tetapi yang merusak, berkhianat, atau menjadi sumber penyakit istana, wajib dipecat tanpa ragu."


Makna Filosofis Reshuffle dan Pemecatan

1. Reshuffle (Perombakan atau Pergeseran Posisi)

Definisi: Mengganti atau memindahkan pejabat tanpa menghapuskan kepercayaan sepenuhnya.

Makna Filosofi: Sebuah upaya memperbaiki, menyegarkan, dan menempatkan seseorang pada posisi yang lebih tepat.

Ibarat Abu Nawas: Pakaian yang masih layak dipakai setelah dicuci.


Tujuan Politik:

  • Menyesuaikan kebutuhan zaman.
  • Memberi kesempatan kedua bagi pejabat yang belum optimal.
  • Menunjukkan fleksibilitas pemimpin.


2. Pemecatan (Pemberhentian atau Penghapusan Jabatan)

Definisi: Pemberhentian total karena hilangnya kepercayaan.

Makna Filosofi: Pemutusan ikatan demi menjaga kehormatan dan keselamatan negara.

Ibarat Abu Nawas: Pakaian robek yang justru mempermalukan pemakainya.

Tujuan Politik:

  • Membersihkan lingkaran kekuasaan dari pengkhianatan dan korupsi.
  • Memberi teladan keadilan bagi rakyat.
  • Menghindari bahaya laten dari dalam pemerintahan.


Pandangan Ahli dan Pakar Modern

Niccolò Machiavelli dalam Il Principe menekankan bahwa seorang pemimpin harus berani tegas: orang yang merusak kepercayaan tidak boleh dipertahankan karena akan merusak legitimasi kekuasaan.

Max Weber memandang birokrasi ideal harus berbasis kompetensi, bukan kedekatan personal. Artinya, reshuffle wajar dilakukan untuk menemukan kesesuaian, tetapi pemecatan mutlak jika ada pelanggaran etika dan hukum.

Franz Magnis-Suseno, filsuf Indonesia, mengingatkan bahwa etika politik tidak boleh dikorbankan demi kepentingan pragmatis. Pemimpin yang tetap mempertahankan pembantu korup hanya akan mempercepat kejatuhannya.


Relevansi dengan Indonesia

Dalam konteks Indonesia, praktik reshuffle dan pemecatan sering dilakukan presiden untuk menjaga stabilitas pemerintahan.

Reshuffle biasanya dilakukan karena kebutuhan penyegaran atau penyesuaian politik, misalnya Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) maupun Presiden Joko Widodo (Jokowi) beberapa kali merombak kabinet demi efektivitas.

Pemecatan dilakukan bila pejabat melakukan pelanggaran berat, seperti kasus korupsi, penyalahgunaan wewenang, atau pengkhianatan pada amanah rakyat.

Seorang presiden, gubernur, atau pemimpin lembaga manapun harus bijak: tidak semua pembantu yang lemah langsung dipecat, tetapi tidak semua pula bisa diselamatkan hanya dengan reshuffle.


Kritik Filosofis

1. Bahaya Reshuffle Semu

Jika reshuffle hanya didasarkan pada kompromi politik tanpa memperhatikan kompetensi, maka hasilnya adalah kosmetik belaka. Seperti mencuci pakaian dengan pewangi, tetapi sebenarnya penuh noda yang tidak hilang.

2. Bahaya Pemecatan Emosional

Jika pemecatan dilakukan karena dendam pribadi, bukan karena prinsip, maka justru melukai moral kepemimpinan. Abu Nawas menegaskan: pemecatan hanya sah bila untuk mencegah kerusakan lebih besar, bukan untuk memuaskan ego.


Kesimpulan

Raja Harun Al Rasyid akhirnya mengangguk dan berkata:

"Benar, wahai sahabatku Abu Nawas. Ada pakaian yang cukup dicuci, ada pula yang harus diganti. Maka sebagian pembantuku akan ku-reshuffle, sebagian lainnya akan kupecat, sesuai dengan kadar kesalahan dan manfaatnya."

Hikmah ini mengajarkan bahwa kepemimpinan bukan sekadar menjaga kekuasaan, tetapi menjaga marwah dan amanah. Reshuffle adalah seni manajemen, sedangkan pemecatan adalah tindakan moral. Keduanya harus dijalankan dengan keadilan dan kebijaksanaan.


Penutup

Dari Baghdad abad ke-9 hingga Jakarta abad ke-21, pesan Abu Nawas tetap abadi:

Pemimpin sejati adalah mereka yang mampu membedakan siapa yang harus diperbaiki, siapa yang harus dibiarkan pergi. Sebab salah memilih pembantu bukan hanya merusak istana, tetapi juga meruntuhkan kepercayaan rakyat. (Alim Academia)



Portal Suara Academia hadir sebagai platform akademis berkualitas dengan artikel ilmiah, diskusi panel, dan ulasan buku oleh Profesional dan Akademisi terkemuka, dengan standar tinggi dan etika yang ketat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Baca Juga :

Translate

Cari Blog Ini