Selasa, 09 September 2025

JADILAH SAHABAT DAN PEMBANTU PRESIDEN SEPERTI ABU NAWAS BERSAHABAT DENGAN RAJA HARUN AL-RASYID

Jadilah Sahabat dan Pembantu Presiden seperti Abu Nawas Bersahabat dengan Raja Harun Al-Rasyid

Oleh : Basa Alim Tualeka (obasa)


Puisi : 

"Sahabat Sejati di Tepi Singgasana"

Di balik tirai emas istana,
raja duduk dengan segala wibawa,
mahkota berkilau, pedang terhunus,
namun hatinya tak lepas dari gelisah manusia.

Datanglah seorang penyair sederhana,
berpakaian lusuh, wajah bersahaja,
ia tidak membawa pedang atau tombak,
melainkan kata, sindiran, dan tawa.

Dialah Abu Nawas,
yang lidahnya bagai cermin,
memantulkan kebenaran yang sering disembunyikan,
dalam gelak tawa tersimpan hikmah mendalam.

“Wahai Raja, janganlah kau buta,
takhta bukan selamanya milikmu,
ia hanyalah titipan Yang Maha Kuasa,
dan rakyat adalah amanah yang harus kau jaga.”

Harun Al-Rasyid terdiam,
kadang tertawa, kadang tersinggung,
namun akhirnya ia paham,
bahwa sahabat sejati bukanlah yang memuji,
melainkan yang mengingatkan di kala salah.

Abu Nawas bukan pencari kuasa,
bukan pula pengemis harta,
ia sahabat sejati yang tulus,
yang kritiknya lahir dari cinta pada kebenaran.

Betapa indah bila pemimpin kini,
punya sahabat sejujur itu,
yang berani berkata benar meski pahit,
yang setia menjaga arah meski badai politik mengguncang.

Bukan sahabat yang menjerat dengan pujian palsu,
bukan pembantu yang hanya mengekor pada kepentingan,
melainkan suara nurani,
yang menjaga agar presiden tetap berpihak pada rakyat.

Sebab sahabat sejati adalah penjaga,
bukan penjilat, bukan penjerumus,
melainkan cahaya kecil yang setia,
di tengah gelapnya godaan kuasa.

Maka jadilah seperti Abu Nawas,
yang cerdas, berani, dan jujur,
jadilah sahabat yang menjaga pemimpin,
agar tak hanyut dalam arus kesombongan.

Dan jadilah seperti Harun Al-Rasyid,
yang membuka telinga bagi kritik,
yang menyadari bahwa tawa kadang lebih tajam dari pedang,
dan sindiran lebih suci daripada pujian.

Indonesia hari ini pun menanti,
para sahabat sejati di sisi presiden,
bukan sekadar penasihat politik,
tetapi penjaga nurani bangsa.

Sebab kepemimpinan tanpa kritik,
ibarat kapal tanpa kompas,
megah berlayar di samudera,
namun akhirnya karam ditelan gelombang.(obasa) 


Pendahuluan

Portal Suara Academia: Kekuasaan selalu menyimpan paradoks. Di satu sisi, ia memberi ruang untuk mewujudkan keadilan, kesejahteraan, dan kejayaan. Namun, di sisi lain, kekuasaan juga rawan melahirkan kesombongan, kebutaan moral, dan penyalahgunaan wewenang. Dalam sejarah, tidak sedikit raja, kaisar, maupun presiden yang jatuh bukan karena musuh dari luar, tetapi karena lingkaran dalam yang dipenuhi dengan pujian palsu dan ketakutan menyampaikan kebenaran.

Dalam situasi semacam ini, figur seperti Abu Nawas menjadi sangat penting. Ia bukan pejabat tinggi, bukan jenderal, bukan menteri, melainkan sahabat cerdas yang berani menegur Khalifah Harun Al-Rasyid dengan cara yang unik: satire, humor, dan kebijaksanaan. Harun Al-Rasyid sendiri dikenal sebagai khalifah besar Dinasti Abbasiyah (786–809 M) yang membawa Baghdad mencapai masa keemasan. Namun, justru dalam puncak kejayaan itulah, ia tetap membuka ruang untuk kritik, bahkan dari seorang penyair jenaka.

Hubungan antara Abu Nawas dan Harun Al-Rasyid menjadi simbol ideal tentang bagaimana seorang pemimpin membutuhkan sahabat yang jujur. Dalam konteks Indonesia, sahabat-sahabat presiden seyogianya memainkan peran serupa: menjadi penyeimbang, pengingat nurani, sekaligus penghibur di tengah beratnya beban kepemimpinan.


Abu Nawas dan Harun Al-Rasyid: Dinamika yang Menghidupkan Kekuasaan

1. Abu Nawas: Penyair, Filosof, dan Kritikus

Nama lengkapnya adalah Abu Ali al-Hasan bin Hani al-Hakami, lahir di Persia (Iran) pada tahun 757 M. Ia dikenal sebagai penyair besar Arab klasik yang piawai dalam satir, humor, dan puisi religius. Namun, lebih dari itu, Abu Nawas memiliki keberanian untuk menyampaikan kritik kepada penguasa, meski dengan cara halus.

Dalam banyak kisah, ia menggunakan humor untuk mengungkap ketidakadilan. Misalnya, ketika rakyat diperas oleh pejabat, Abu Nawas menceritakan kisah kocak yang justru membuat khalifah merenung. Ia menghibur sekaligus mendidik.


2. Harun Al-Rasyid: Khalifah Agung yang Membutuhkan Pengingat

Harun Al-Rasyid adalah khalifah kelima Dinasti Abbasiyah. Di bawah kepemimpinannya, Baghdad menjadi pusat ilmu pengetahuan dunia. Perpustakaan Bayt al-Hikmah (Rumah Kebijaksanaan) berdiri megah, dan para ulama serta filsuf berkumpul di sana. Namun, sebagai pemimpin besar, ia sadar bahwa kejayaan politik tidak menjamin kesempurnaan moral.

Maka, Harun membuka ruang bagi Abu Nawas. Kadang ia tertawa, kadang ia tersinggung, namun pada akhirnya ia sadar bahwa kritik yang jujur adalah vitamin bagi kepemimpinan.


Filosofi Hubungan Sahabat dan Pemimpin

1. Kritik yang Menghidupkan

Pujian membuat pemimpin merasa nyaman, tetapi kritik membuatnya tumbuh. Abu Nawas hadir sebagai suara rakyat yang menyelinap ke telinga raja.

2. Kedekatan Tanpa Kepentingan

Abu Nawas tidak mengejar jabatan atau kekayaan dari istana. Inilah yang membuat kritiknya tulus. Filosofi ini penting bagi Indonesia: seorang sahabat presiden seharusnya bebas dari kepentingan pribadi.

3. Sahabat sebagai Penjaga Nurani

Abu Nawas tidak hanya menertawakan penguasa, ia juga mengingatkan akan keberadaan Tuhan. Bagi pemimpin, sahabat ideal adalah mereka yang mengingatkan bahwa kekuasaan hanyalah titipan.


Relevansi untuk Indonesia

1. Presiden dan Lingkaran Kekuasaan

Seorang presiden seringkali dikelilingi oleh partai, menteri, birokrat, dan pebisnis. Banyak di antaranya memiliki kepentingan politik dan ekonomi. Jika semua orang hanya menyajikan pujian, presiden berisiko kehilangan arah.

Dalam hal ini, sahabat yang berperan seperti Abu Nawas menjadi vital. Mereka tidak mencari keuntungan, tetapi justru menjaga presiden agar tidak terjebak dalam keputusan yang merugikan rakyat.

2. Figur Abu Nawas di Indonesia

Dalam sejarah Indonesia, ada tokoh-tokoh yang pernah berperan mirip Abu Nawas bagi presiden:

Buya Hamka bagi Soekarno: meski bersahabat, Hamka tetap kritis, bahkan masuk penjara karena mempertahankan prinsip.

KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) bagi berbagai presiden: dengan gaya humorisnya, Gus Dur sering menyampaikan kritik yang mendalam namun ringan.

Para cendekiawan dan ulama independen yang tidak masuk lingkaran kekuasaan, namun tetap menyuarakan kebenaran.

3. Pelajaran untuk Kepemimpinan

Presiden tidak boleh alergi terhadap kritik.

Presiden perlu membuka ruang untuk mendengar suara rakyat secara jujur.

Presiden membutuhkan “sahabat Abu Nawas” di lingkarannya, bukan hanya penasihat politik.


Kritik Filosofis: Bahaya Tanpa Sahabat Sejati

Tanpa sahabat sejati seperti Abu Nawas, seorang pemimpin bisa:

  1. Terjebak dalam kultus individu, di mana semua keputusan dianggap benar.
  2. Terseret dalam korupsi kekuasaan, karena tidak ada yang berani mengingatkan.
  3. Kehilangan legitimasi moral, meski mungkin masih kuat secara politik.

Sebaliknya, dengan sahabat yang jujur, presiden justru menjadi lebih kuat. Kritik adalah bentuk kasih sayang.


Kesimpulan

Kisah Abu Nawas dan Harun Al-Rasyid adalah pelajaran abadi: pemimpin membutuhkan sahabat yang berani, cerdas, dan jujur. Sahabat sejati tidak menjilat, tidak menjerumuskan, tetapi menuntun dengan kecerdikan dan moralitas.

Bagi Indonesia, idealnya presiden memiliki figur-figur seperti Abu Nawas: penyeimbang, pengingat, penghibur, sekaligus penjaga nurani. Dengan begitu, kekuasaan tidak hanya menjadi alat politik, tetapi juga sarana menghadirkan keadilan dan kesejahteraan rakyat.


Penutup

Menjadi sahabat presiden bukanlah soal jabatan atau kedekatan formal, melainkan soal keberanian menjaga kebenaran. Abu Nawas telah menunjukkan bahwa persahabatan sejati adalah memberi kritik dengan kasih sayang, bukan pujian palsu yang menjerumuskan.

Maka, idealnya setiap presiden Indonesia memiliki Abu Nawas di sisinya — sahabat yang mampu membuatnya tertawa, merenung, dan akhirnya menjadi lebih bijaksana. (Alim Academia)



Portal Suara Academia hadir sebagai platform akademis berkualitas dengan artikel ilmiah, diskusi panel, dan ulasan buku oleh Profesional dan Akademisi terkemuka, dengan standar tinggi dan etika yang ketat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Baca Juga :

Translate

Cari Blog Ini