Soemitronomic: Prospektif Mana untuk Indonesia — Kemandirian Ekonomi atau Ketergantungan?
Oleh : Basa Alim Tualeka (obasa).
Pendahuluan
Portal Suara Academia: Indonesia, dengan populasi lebih dari 280 juta jiwa, adalah negara besar yang memiliki potensi ekonomi luar biasa: kekayaan sumber daya alam, pasar domestik raksasa, dan posisi strategis di jalur perdagangan dunia. Namun, dalam beberapa dekade terakhir, dilema besar selalu muncul: apakah pembangunan ekonomi akan diarahkan menuju kemandirian yang menekankan industrialisasi nasional, ataukah realitas global mendorong Indonesia tetap dalam ketergantungan terhadap impor barang, modal, dan teknologi?
Pertanyaan ini menjadi semakin relevan ketika istilah “Soemitronomic” kembali diperbincangkan, merujuk pada gagasan-gagasan Prof. Soemitro Djojohadikoesoemo — ekonom besar Indonesia yang pernah menjadi arsitek kebijakan ekonomi nasional pada era awal kemerdekaan hingga Orde Baru. Konsep ini menekankan pentingnya industrialisasi terarah, proteksi selektif bagi industri muda, dan keterlibatan negara dalam pembangunan ekonomi.
Namun, apakah konsep ini relevan dan prospektif bagi Indonesia 2025–2030? Artikel ini mencoba menjawab pertanyaan itu dengan mengurai pandangan ahli, kondisi makro, risiko, dan peluang.
Konsep Soemitronomic: Akar Pemikiran Soemitro
Prof. Soemitro Djojohadikoesoemo adalah ekonom Indonesia yang berperan besar dalam membentuk arah pembangunan nasional. Ia menekankan bahwa negara berkembang seperti Indonesia tidak bisa mengandalkan pasar bebas sepenuhnya, karena industri domestik masih lemah dan rentan kalah bersaing dengan produk asing.
Pokok-pokok Soemitronomic antara lain:
1. Industrial Policy (kebijakan industrialisasi)
Indonesia harus membangun industri pengolahan sendiri, tidak hanya mengekspor bahan mentah.
2. Proteksi Selektif
Industri muda (infant industry) perlu perlindungan tarif maupun non-tarif, tetapi bersifat sementara hingga kuat bersaing.
3. Pemberdayaan Pengusaha Lokal
Melalui program seperti Program Benteng yang memberi prioritas bagi pengusaha pribumi.
4. Peran Negara dalam Investasi Strategis
Negara perlu turun tangan dalam sektor strategis, dari infrastruktur hingga industri dasar.
5. Kemandirian Finansial & Reinvestasi Domestik
Keuntungan ekonomi harus kembali membangun kapasitas nasional, bukan mengalir ke luar negeri.
Dengan kerangka itu, Soemitro berusaha menjembatani kebutuhan jangka pendek (pertumbuhan) dengan visi jangka panjang (kemandirian).
Kemandirian vs Ketergantungan: Definisi dan Konteks
Kemandirian Ekonomi: kemampuan memenuhi kebutuhan pokok dan strategis dengan sumber daya domestik; daya tahan terhadap guncangan eksternal; basis industri yang kuat; dan kedaulatan pangan, energi, serta teknologi.
Ketergantungan Ekonomi: kondisi ketika negara terlalu bergantung pada impor, utang luar negeri, atau arus modal asing yang mudah keluar-masuk; rawan krisis eksternal; dan sulit menentukan arah kebijakan secara mandiri.
Indonesia saat ini berada di antara keduanya. Ada capaian hilirisasi nikel, peningkatan ekspor produk olahan, dan cadangan devisa yang relatif stabil. Namun, di sisi lain, impor pangan, barang konsumsi, dan komponen industri masih tinggi, menunjukkan kerentanan.
Kondisi Makro Indonesia (2024–2025)
Data terbaru menunjukkan:
Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan I 2025 berada di kisaran 4,87% yoy, sedikit di bawah target 5% pemerintah.
Inflasi relatif terkendali, tetapi daya beli masyarakat kelas menengah-bawah melemah akibat kenaikan harga pangan dan energi.
Neraca perdagangan masih surplus, namun komposisi ekspor masih didominasi komoditas primer dan belum sepenuhnya didukung diversifikasi industri olahan.
Impor barang konsumsi mengalami kenaikan, menandakan lemahnya substitusi impor.
Dengan kondisi ini, Indonesia masih menghadapi dilema: berupaya mandiri melalui hilirisasi dan industrialisasi, atau tetap terjebak pada pola ekspor bahan mentah + impor barang jadi.
Analisis: Prospek Soemitronomic untuk Kemandirian
Potensi Menuju Kemandirian
1. Hilirisasi SDA: jika konsisten, Indonesia bisa naik kelas dari eksportir nikel mentah menjadi produsen baterai kendaraan listrik.
2. Substitusi Impor Pintar: strategi menekan impor barang strategis (pupuk, pangan olahan, komponen elektronik) akan memperkuat neraca pembayaran.
3. Penguatan UMKM dan Industri Lokal: dengan kebijakan fiskal dan pembiayaan, pengusaha nasional bisa menjadi tulang punggung industri.
4. Pembangunan SDM dan Transfer Teknologi: investasi asing diarahkan wajib membawa teknologi dan melatih tenaga kerja Indonesia.
Risiko Terjebak Ketergantungan
1. Proteksi yang Salah Arah
Jika hanya melahirkan kartel domestik yang tidak efisien.
2. Ketergantungan Teknologi Asing
Hilirisasi tanpa penguasaan teknologi inti membuat Indonesia tetap bergantung pada perusahaan luar.
3. Keterbatasan Modal
Pembiayaan industri skala besar masih bergantung pada investor asing, menimbulkan risiko ketergantungan finansial.
4. Governance Lemah
Jika kebijakan dijalankan tanpa transparansi, maka “soemitronomic” hanya menjadi jargon untuk rente politik.
Pandangan Ahli dan Pakar
Ekonom senior melihat Soemitro sebagai tokoh yang memadukan pragmatisme dan nasionalisme ekonomi. Relevansi pemikirannya, menurut mereka, ada pada strategi industrialisasi dan penguatan kapasitas nasional.
Pengamat perdagangan internasional menekankan bahwa proteksi harus disertai target kinerja (misalnya, ekspor dalam 5 tahun naik dua kali lipat). Tanpa itu, proteksi hanya jadi beban konsumen.
Akademisi daerah (misalnya diskusi ISEI & BI di Kalimantan Timur) menilai konsep Soemitronomic perlu diterjemahkan ke level lokal — misalnya hilirisasi sawit, pupuk, dan energi di wilayah masing-masing.
Kritik publik: beberapa menilai “Soemitronomic” bisa jadi slogan politik tanpa makna konkret, jika tidak diikuti regulasi tegas tentang transfer teknologi, transparansi investasi, dan distribusi keuntungan bagi rakyat.
Rekomendasi Strategis
1. Hilirisasi Terukur & Berbasis Pasar
Pilih subsektor unggulan dengan pasar jelas (contoh: baterai EV, pangan olahan, petrokimia).
2. Substitusi Impor Selektif
Fokus pada barang bernilai tambah tinggi, bukan sekadar beras atau gula.
3. Kebijakan Insentif & Transfer Teknologi
Setiap investasi asing wajib mengalokasikan dana riset dan program pelatihan lokal.
4. Akses Pembiayaan UMKM
Kredit bersyarat untuk modernisasi produksi.
5. Transparansi & Tata Kelola
Audit independen atas program hilirisasi dan insentif industri.
6. Kolaborasi Pusat–Daerah
Strategi industri daerah harus selaras dengan rencana nasional.
Risiko & Penyangga
- Risiko Global: fluktuasi harga komoditas, suku bunga internasional, geopolitik.
- Penyangga: cadangan devisa sehat, diversifikasi ekspor, dan penguatan pasar domestik.
- Risiko Internal: korupsi, oligopoli, lemahnya inovasi.
- Penyangga: tata kelola, penegakan hukum, investasi SDM.
Kesimpulan
Konsep Soemitronomic berpotensi besar menjadi landasan bagi kemandirian ekonomi Indonesia. Fokus pada hilirisasi, substitusi impor, dan pemberdayaan pengusaha lokal adalah strategi tepat untuk keluar dari jebakan negara berkembang.
Namun, prospek kemandirian hanya bisa tercapai jika kebijakan dijalankan dengan tata kelola yang baik, proteksi yang bersyarat, transfer teknologi nyata, dan keberanian mengurangi ketergantungan struktural pada impor.
Jika tidak, Soemitronomic bisa berubah arah: dari jalan menuju kemandirian, menjadi sekadar legitimasi baru bagi ketergantungan dalam bentuk lain.
Penutup
Indonesia memiliki pilihan strategis: menjadi bangsa mandiri yang mengolah kekayaannya sendiri, atau terus menjadi pasar bagi bangsa lain. Soemitronomic adalah pengingat dari seorang ekonom besar Indonesia bahwa pembangunan harus berpihak pada bangsa sendiri. Kini, tantangannya adalah bagaimana generasi sekarang menerjemahkan semangat itu ke dalam kebijakan nyata, bukan sekadar retorika. (Alim Academia)
Portal Suara Academia hadir sebagai platform akademis berkualitas dengan artikel ilmiah, diskusi panel, dan ulasan buku oleh Profesional dan Akademisi terkemuka, dengan standar tinggi dan etika yang ketat.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar