Senin, 29 Desember 2025

Hidup yang Seimbang: Seni Menjadi Manusia di Tengah Dunia yang Berlebihan

Menjaga harmoni antara kerja dan istirahat, doa dan usaha, akal dan hati, agar hidup tetap bermakna, bermartabat, dan berkelanjutan.

Oleh : Basa. Alim Tualeka (obasa). 


Pendahuluan: Ketika Hidup Terjebak pada Ekstrem

Portal Suara Academia: Dalam kehidupan modern, manusia semakin sering hidup di antara dua kutub ekstrem. Di satu sisi, ada manusia yang memaksakan diri bekerja tanpa batas demi ambisi, status, dan pengakuan sosial. Di sisi lain, ada manusia yang memilih zona nyaman, menghindari tanggung jawab, dan larut dalam kemalasan yang dibungkus atas nama “menikmati hidup”.

Kedua ekstrem ini sama-sama bermasalah. Yang satu menggerus kesehatan fisik dan jiwa, yang lain mematikan potensi dan makna hidup. Ironisnya, keduanya sering dianggap wajar, bahkan dibenarkan oleh budaya zaman.

Padahal, sejak awal Islam dan kebijaksanaan hidup mengajarkan satu prinsip utama: keseimbangan. Hidup tidak diciptakan untuk dijalani secara berlebihan, melainkan secara proporsional. Tanpa keseimbangan, manusia akan kehilangan arah, kehilangan ketenangan, dan pada akhirnya kehilangan jati diri sebagai manusia.


1. Dunia yang Kehilangan Ukuran

Kita hidup di zaman yang serba cepat, serba target, dan serba tuntutan. Manusia sering dinilai dari produktivitas, jabatan, kekayaan, dan pencapaian lahiriah. Akibatnya, banyak orang menjalani hidup secara berlebihan—bekerja tanpa henti atau beristirahat tanpa tujuan.

Padahal, hukum kehidupan selalu sama: segala sesuatu yang berlebihan akan melahirkan masalah. Tubuh yang dipaksa akan sakit, jiwa yang diabaikan akan gelisah, dan akal yang terus ditekan tanpa keseimbangan akan kehilangan kebijaksanaan.

Allah SWT berfirman:

“Dan demikianlah Kami jadikan kamu umat yang wasath (moderat/seimbang).” (QS. Al-Baqarah: 143)

Ayat ini menegaskan bahwa keseimbangan bukan pilihan tambahan, melainkan identitas dan tuntunan hidup.


2. Keseimbangan sebagai Hukum Alam dan Hukum Ilahi

Alam semesta berjalan karena keseimbangan: siang dan malam, panas dan dingin, hujan dan kemarau. Ketika keseimbangan alam terganggu, bencana pun terjadi.

Begitu pula manusia. Ketika keseimbangan antara jasmani dan rohani, akal dan hati, dunia dan akhirat rusak, maka kegelisahan hidup muncul meskipun secara materi terlihat sukses.

Allah SWT menegaskan:

“Dan Allah telah meninggikan langit dan Dia meletakkan neraca (keseimbangan).” (QS. Ar-Rahman: 7)


3. Kerja Keras Itu Mulia, Tapi Hidup Bukan Mesin

Bekerja keras adalah kemuliaan. Rasulullah SAW bersabda:

“Tidak ada makanan yang lebih baik daripada hasil kerja tangannya sendiri.” (HR. Bukhari)

Namun, kerja yang berlebihan menjadikan manusia seperti mesin: bergerak terus tanpa rasa. Banyak orang sukses secara finansial, tetapi gagal menikmati hidupnya sendiri.

Islam juga mengakui hak tubuh untuk beristirahat:

“Sesungguhnya tubuhmu memiliki hak atasmu.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Kerja tanpa istirahat membuat manusia aus,

istirahat tanpa kerja membuat manusia tumpul.


4. Istirahat: Hak Tubuh, Bukan Alasan Bermalas-malasan

Istirahat adalah kebutuhan, bukan kemewahan. Bahkan ibadah pun tidak boleh dilakukan secara ekstrem hingga merusak tubuh.

Namun, istirahat yang kehilangan arah akan berubah menjadi kemalasan. Waktu habis, potensi terkubur, dan hidup kehilangan tujuan. Islam mengajarkan istirahat untuk memulihkan, bukan untuk melarikan diri.


5. Doa dan Usaha: Dua Sayap Kehidupan

Doa dan usaha harus berjalan bersama. Rasulullah SAW bersabda:

“Ikatlah untamu, lalu bertawakallah.” (HR. Tirmidzi)

Doa tanpa usaha adalah harapan kosong.

Usaha tanpa doa adalah kesombongan tersembunyi.


6. Cerdik dan Tulus: Menyatukan Akal dan Hati

Kecerdasan tanpa ketulusan melahirkan kelicikan. Ketulusan tanpa kecerdikan melahirkan kepolosan yang mudah dimanfaatkan.

Allah SWT berfirman:

“Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berkhianat.”v(QS. An-Nisa: 107)

Akal tanpa hati melukai,

hati tanpa akal melemahkan.


7. Percaya Diri dan Rendah Hati

Percaya diri penting, tetapi berlebihan berubah menjadi kesombongan.

“Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong.” (QS. Luqman: 18)

Rendah hati mulia, tetapi jika berlebihan menjadi rendah diri.

Keseimbangan adalah kuncinya.


8. Mengenal Orang Lain dan Mengenal Diri Sendiri

Mengenal orang lain adalah kecerdasan sosial. Mengenal diri sendiri adalah kebijaksanaan sejati.

Tanpa mengenal diri, manusia mudah terombang-ambing oleh pujian dan hinaan.


9. Menguasai Diri: Puncak Kekuasaan

Rasulullah SAW bersabda:

“Orang kuat bukanlah yang menang dalam bergulat, tetapi yang mampu menahan diri ketika marah.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Menguasai diri sendiri adalah kekuasaan tertinggi.


10. Dunia dan Akhirat: Bukan Pilihan, Tapi Keseimbangan

Allah SWT berfirman:

“Carilah kebahagiaan akhirat, dan jangan lupakan bagianmu di dunia.” (QS. Al-Qashash: 77)

Islam tidak memisahkan dunia dan akhirat, tetapi menyatukannya secara seimbang.


11. Hidup Seimbang sebagai Jalan Keberlanjutan

Keseimbangan menjadikan hidup lebih tahan lama, lebih tenang, dan lebih bermakna. Ia menjaga kesehatan, kejernihan berpikir, dan ketenangan batin.


12. Penutup: Seni Menjadi Manusia

Hidup bukan tentang siapa yang paling sibuk atau paling santai, melainkan siapa yang paling mampu menjaga ukuran.

Nilai hidup tidak diukur dari kecepatan berlari,

tetapi dari keseimbangan dalam melangkah.


Rekomendasi

Sebagai refleksi praktis, beberapa rekomendasi berikut layak dipertimbangkan:

1. Bagi individu:

latih keseimbangan antara kerja, ibadah, dan istirahat secara sadar.

2. Bagi keluarga:

bangun budaya dialog, waktu bersama, dan teladan hidup seimbang.

3. Bagi lembaga dan organisasi:

hindari budaya kerja yang eksploitatif dan tidak manusiawi.

4. Bagi pemimpin:

jadikan keseimbangan sebagai prinsip kebijakan, bukan sekadar jargon.

5. Bagi masyarakat luas:

kembalikan makna sukses tidak hanya pada materi, tetapi pada ketenangan dan keberkahan hidup.


Penulis:
Dr. Basa Alim Tualeka, MSi
Surabaya



Portal Suara Academia hadir sebagai platform akademis berkualitas dengan artikel ilmiah, diskusi panel, dan ulasan buku oleh Profesional dan Akademisi terkemuka, dengan standar tinggi dan etika yang ketat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Baca Juga :

Translate

Cari Blog Ini