Minggu, 04 Januari 2026

DUNIA PENUH TIPUAN, TAPI BUKAN UNTUK DI TINGGALKAN

Manajemen Islam agar Unggul di Dunia dan Selamat di Akhirat

Oleh : Basa Alim Tualeka (obasa)


Pendahuluan: Dunia Menarik, Tapi Akhirat Menentukan

Portal Suara Academia: Islam sejak awal tidak pernah membohongi manusia tentang dunia. Dunia memang indah, menarik, penuh peluang, tetapi juga penuh jebakan. Banyak manusia gagal bukan karena miskin atau bodoh, melainkan karena salah mengelola dunia. Mereka menjadikan dunia sebagai tujuan, bukan sebagai alat.

Allah SWT berfirman:

“Ketahuilah, sesungguhnya kehidupan dunia hanyalah permainan, senda gurau, perhiasan, saling bermegah-megahan, serta berlomba-lomba dalam harta dan anak.” (QS. Al-Hadid: 20)

Ayat ini tidak mengharamkan harta, jabatan, atau kemajuan, tetapi memperingatkan bahwa jika dunia menjadi pusat hidup, maka manusia sedang tertipu. Islam hadir sebagai sistem manajemen kehidupan agar manusia mampu menata dunia dengan cerdas dan bermartabat.


1. Hakikat Dunia: Tempat Ujian, Bukan Tempat Tinggal

Islam memandang dunia sebagai fase sementara, bukan rumah abadi. Dunia adalah tempat manusia diuji: imannya, akhlaknya, kesabarannya, dan kejujurannya.

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Dunia adalah penjara bagi orang mukmin dan surga bagi orang kafir.” (HR. Muslim)

Artinya, orang beriman hidup dengan aturan, batasan, dan tanggung jawab moral. Ia tidak bebas mengikuti hawa nafsu, karena sadar bahwa setiap pilihan akan dimintai pertanggungjawaban di akhirat.


2. Letak Tipuan Dunia: Ketika Alat Menjadi Tujuan

Tipuan dunia bukan pada harta, teknologi, atau kekuasaan, tetapi pada kesalahan orientasi hidup. Ketika alat dijadikan tujuan, di situlah manusia terjebak.

Allah SWT berfirman:

“Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan.”v(QS. At-Taghabun: 15)

Islam tidak melarang memiliki dunia, tetapi melarang dunia menguasai hati. Orang yang menguasai dunia adalah pemenang; orang yang dikuasai dunia adalah pecundang, meski tampak sukses.


3. Manajemen Niat: Pondasi Segala Kesuksesan

Dalam Islam, manajemen hidup selalu dimulai dari niat.

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Sesungguhnya setiap amal tergantung niatnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Makna Manajerial:

  • Kerja diniatkan ibadah → lahir etos dan kejujuran
  • Jabatan diniatkan amanah → lahir keadilan
  • Ilmu diniatkan pengabdian → lahir kebermanfaatan

Ilmu Pengetahuan:

Psikologi modern menyebut purpose-driven life sebagai kunci kesehatan mental, ketahanan stres, dan konsistensi prestasi. Islam telah mengajarkannya sejak awal melalui konsep niat.


4. Manajemen Tauhid: Bebas dari Perbudakan Dunia

Tauhid adalah inti kebebasan manusia. Dunia menipu ketika manusia menggantungkan hidupnya pada jabatan, uang, atau manusia.

Allah SWT berfirman:

“Dan bertawakallah kepada Allah, cukuplah Allah sebagai Pelindung.” (QS. Al-Ahzab: 3)

Filosofi Islam:

Orang bertauhid:

  • Berusaha maksimal
  • Berpikir rasional dan strategis
  • Namun hatinya tidak terguncang oleh hasil

Ilmu Pengetahuan:

Riset neurosains menunjukkan bahwa keyakinan spiritual yang kuat meningkatkan stabilitas emosi dan ketahanan psikologis.


5. Manajemen Waktu: Disiplin yang Menyelamatkan Hidup

Waktu adalah aset yang tidak bisa diulang. Islam menjadikan waktu sebagai sumpah Ilahi.

Allah SWT berfirman:

“Demi masa, sesungguhnya manusia benar-benar dalam kerugian.” (QS. Al-‘Ashr: 1–2)

Prinsip Islam:

1. Shalat sebagai penyangga waktu

2. Keseimbangan dunia–akhirat

3. Tidak menunda amal saleh

Ilmu Pengetahuan:

Manajemen waktu efektif terbukti meningkatkan produktivitas, kualitas hidup, dan mengurangi stres kronis.


6. Manajemen Harta: Kaya Tanpa Diperbudak

Islam tidak memusuhi kekayaan, tetapi mengaturnya agar tidak merusak manusia.

Allah SWT berfirman:

“Carilah kebahagiaan akhirat dengan apa yang Allah berikan kepadamu, dan jangan lupakan bagianmu di dunia.” (QS. Al-Qashash: 77)

Prinsip Islam:

  • Halal dalam memperoleh
  • Amanah dalam menggunakan
  • Zakat dan sedekah sebagai pembersih

Ilmu Pengetahuan:

Ekonomi modern membuktikan bahwa distribusi kekayaan dan filantropi meningkatkan stabilitas sosial dan keberlanjutan ekonomi.


7. Manajemen Diri: Menang atas Nafsu, Menang atas Dunia

Musuh terbesar manusia bukan orang lain, melainkan nafsunya sendiri.

Allah SWT berfirman:

“Sungguh beruntung orang yang menyucikan jiwanya.” (QS. Asy-Syams: 9)

Penyakit Hati yang Menipu:

  • Riya’ (pamer)
  • Ujub (bangga diri)
  • Sombong
  • Cinta popularitas

Ilmu Pengetahuan:

Konsep emotional intelligence dan self-regulation adalah fondasi kepemimpinan modern dan kesuksesan berkelanjutan.


8. Manajemen Ilmu dan Amal: Jangan Pintar tapi Hampa

Islam menolak ilmu yang berhenti di kepala.

Allah SWT berfirman:

“Allah meninggikan orang-orang yang beriman dan berilmu beberapa derajat.” (QS. Al-Mujadilah: 11)

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Ilmu akan ditanya: untuk apa diamalkan.” (HR. Tirmidzi)

Ilmu tanpa amal melahirkan kesombongan, amal tanpa ilmu melahirkan kesesatan.


9. Manajemen Keluarga: Kesuksesan yang Bertanggung Jawab

Kesuksesan Islam tidak bersifat individualistik.

Allah SWT berfirman:

“Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.” (QS. At-Tahrim: 6)

Islam menuntut:

  • Kepemimpinan ayah dan ibu
  • Pendidikan akhlak anak
  • Keteladanan dalam rumah tangga


10. Manajemen Sosial: Kesalehan yang Berdampak

Islam menolak kesalehan yang egois.

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.” (HR. Ahmad)

Kesuksesan sejati adalah ketika keberhasilan pribadi membawa maslahat sosial.


11. Menjadi Musafir Cerdas, Bukan Budak Dunia

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Jadilah engkau di dunia seperti orang asing atau musafir.” (HR. Bukhari)

Musafir bukan berarti pasif, tetapi sadar bahwa dunia hanyalah tempat singgah, bukan tempat menetap.


Penutup: Dunia Bisa Menipu, Islam Memberi Peta Jalan

Islam tidak menyuruh manusia membenci dunia, tetapi menguasainya dengan nilai Ilahi. Dengan manajemen Islam:

1. Niat menjadi kompas

2. Tauhid menjadi fondasi

3. Waktu menjadi disiplin

4. Harta menjadi sarana

5. Jiwa menjadi bersih

6. Ilmu menjadi amal

7. Keluarga dan masyarakat menjadi tujuan maslahat

Dunia yang penuh tipuan berubah menjadi ladang pahala, dan kesuksesan dunia menjadi jembatan menuju akhirat.

Allah SWT mengajarkan doa penutup orientasi hidup:

“Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan lindungilah kami dari siksa neraka.” (QS. Al-Baqarah: 201)

 


Portal Suara Academia hadir sebagai platform akademis berkualitas dengan artikel ilmiah, diskusi panel, dan ulasan buku oleh Profesional dan Akademisi terkemuka, dengan standar tinggi dan etika yang ketat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Baca Juga :

Translate

Cari Blog Ini