Jalan Logis dan Islami Menuju Hati Tenang, Akhlak Baik, dan Habluminannas yang Sehat
Oleh : Basa Alim Tualeka (obasa)
Puisi:
"Dari Niat yang Sunyi"
Pendahuluan: Perubahan Besar Selalu Dimulai dari Dalam
Dalam kehidupan sehari-hari, banyak orang sibuk memperbaiki citra, penampilan, dan ucapan, tetapi lupa memperbaiki niat. Padahal dalam Islam, perubahan sejati tidak dimulai dari luar, melainkan dari dalam diri manusia. Islam mengajarkan bahwa niat → hati → pikiran → perkataan → perbuatan → hubungan sosial, adalah satu mata rantai yang tidak bisa dipisahkan.
Logika ini bukan hanya ajaran agama, tetapi juga sangat masuk akal secara psikologis dan sosial. Orang yang berniat buruk, meskipun tampak baik di luar, lambat laun akan menunjukkan keburukannya. Sebaliknya, orang yang niatnya bersih, walau sederhana, akan memancarkan kebaikan secara alami.
1. Jika Niat Kita Bersih, Maka Bersih Pula Hati Kita
Niat adalah fondasi seluruh amal manusia. Dua orang bisa melakukan perbuatan yang sama, tetapi nilainya di sisi Allah dan dampaknya di masyarakat bisa sangat berbeda karena niatnya berbeda.
Dalil Hadis:
“Sesungguhnya setiap amal tergantung niatnya, dan setiap orang akan mendapatkan sesuai dengan apa yang ia niatkan.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Niat yang bersih berarti ikhlas karena Allah, bukan karena pencitraan, kepentingan pribadi, kekuasaan, atau pujian manusia. Ketika niat lurus, hati menjadi ringan, tidak terbebani ambisi berlebihan, dan tidak mudah tersulut emosi negatif.
Akal sehatnya:
Orang yang bekerja dengan niat tulus akan lebih sabar, konsisten, dan tahan diuji. Sedangkan orang yang niatnya pamrih akan mudah kecewa ketika tidak dihargai.
Filosofi Islami:
Niat adalah akar. Jika akarnya busuk, pohon kebaikan akan tumbang meski daunnya tampak hijau.
2. Jika Hati Kita Bersih, Maka Bersih Pula Pikiran Kita
Hati adalah pusat kendali manusia. Pikiran, emosi, dan sikap hidup bersumber dari kondisi hati. Hati yang bersih akan melahirkan pikiran yang jernih, adil, dan tidak mudah berprasangka.
Dalil Hadis:
“Ketahuilah, dalam tubuh manusia ada segumpal daging. Jika ia baik, maka baiklah seluruh tubuh. Jika ia rusak, maka rusaklah seluruh tubuh. Ketahuilah, itulah hati.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Hati yang kotor akan melahirkan pikiran yang penuh curiga, kebencian, dan prasangka buruk (su’udzon). Sebaliknya, hati yang bersih akan melahirkan husnudzon dan sikap objektif.
Akal sehatnya:
Orang yang hatinya dipenuhi iri dan dendam akan selalu melihat dunia sebagai ancaman. Sedangkan orang yang hatinya bersih akan melihat masalah sebagai pelajaran.
Filosofi Islami:
Hati adalah rumah pikiran. Jika rumahnya bersih, tamu-tamu pikiran yang datang pun akan baik.
3. Jika Pikiran Kita Bersih, Maka Bersih Pula Perkataan Kita
Pikiran yang jernih akan tercermin dalam ucapan. Islam sangat menjaga adab lisan karena kata-kata bisa membangun atau menghancurkan.
Dalil Al-Qur’an:
“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar.” (QS. Al-Ahzab: 70)
Perkataan yang bersih adalah perkataan yang:
- Jujur
- Tidak menyakiti
- Tidak memfitnah
- Tidak memprovokasi
- Tidak merendahkan orang lain
Akal sehatnya:
Orang yang berpikir sehat tidak akan berbicara sembarangan, karena ia paham setiap kata punya konsekuensi.
Filosofi Islami:
Lisan adalah jembatan antara isi hati dan realitas sosial. Jika jembatan rusak, hubungan pun runtuh.
4. Jika Perkataan Kita Bersih, Maka Bersih Pula Perbuatan Kita
Ucapan yang baik akan membentuk karakter dan kebiasaan. Orang yang terbiasa berkata jujur akan merasa gelisah jika berbuat curang.
Dalil Al-Qur’an:
“Tidak ada satu kata pun yang diucapkan melainkan ada malaikat yang selalu mengawasinya.” (QS. Qaf: 18)
Perbuatan adalah bukti nyata dari integritas seseorang. Islam tidak cukup dengan teori dan kata-kata, tetapi menuntut amal nyata.
Akal sehatnya:
Sulit membayangkan seseorang yang selalu bicara kebaikan tetapi terus-menerus berbuat kejahatan. Cepat atau lambat, topeng akan jatuh.
Filosofi Islami:
Perbuatan adalah tanda tangan kepribadian. Ia tidak bisa dipalsukan dalam jangka panjang.
5. Jika Perbuatan Kita Baik, Maka Baik Pula Silaturrahim Kita
Perbuatan baik melahirkan kepercayaan. Kepercayaan melahirkan hubungan sosial yang sehat. Di sinilah silaturrahim tumbuh.
Dalil Hadis:
“Barang siapa yang ingin dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah ia menyambung silaturrahim.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Silaturrahim bukan sekadar bertemu atau berfoto bersama, tetapi:
- Menjaga perasaan
- Tidak menyakiti
- Tidak mengkhianati
- Mau memaafkan
Akal sehatnya:
Tidak ada hubungan yang bertahan lama tanpa kejujuran dan perbuatan baik.
Filosofi Islami:
Silaturrahim adalah investasi sosial yang keuntungannya tidak selalu langsung, tetapi sangat besar dan panjang.
6. Jika Silaturrahim Baik, Maka Baik Pula Habluminannas
Habluminannas adalah puncak kematangan spiritual. Islam tidak membenarkan ibadah yang rajin tetapi merusak hubungan dengan sesama.
Dalil Al-Qur’an:
“Sembahlah Allah dan jangan mempersekutukan-Nya, dan berbuat baiklah kepada manusia.” (QS. An-Nisa: 36)
Rasulullah ﷺ bahkan mengingatkan bahwa banyak orang rajin ibadah, tetapi masuk neraka karena menyakiti manusia.
Hadis:
“Orang bangkrut adalah orang yang datang dengan shalat dan puasa, tetapi pernah menyakiti orang lain.” (HR. Muslim)
Akal sehatnya:
Masyarakat tidak rusak karena kurang ibadah ritual, tetapi karena rusaknya akhlak sosial.
Filosofi Islami:
Habluminallah tanpa habluminannas adalah iman yang pincang.
Penutup: Islam yang Hidup, Logis, dan Membumi
Rangkaian ini menunjukkan bahwa Islam adalah agama yang sangat rasional, manusiawi, dan relevan sepanjang zaman. Semua dimulai dari niat yang bersih. Jika niat lurus, maka:
- Hati tenang
- Pikiran jernih
- Lisan terjaga
- Perbuatan baik
- Silaturrahim kuat
- Habluminannas harmonis
Inilah Islam yang hidup dalam realitas, bukan hanya di mimbar dan sajadah.
Kesimpulan Akhir:
Bersihkan niatmu, maka Allah akan membersihkan hidupmu. (Obasa)
Portal Suara Academia hadir sebagai platform akademis berkualitas dengan artikel ilmiah, diskusi panel, dan ulasan buku oleh Profesional dan Akademisi terkemuka, dengan standar tinggi dan etika yang ketat.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar