Minggu, 04 Januari 2026

RIYA’ DAN UJUB: DUA RACUN HALUS YANG DIAM-DIAM MEMBUNUH AMAL

Ketika Amal Banyak, tetapi Nilainya Nol

Oleh : Basa Alim Tualeka (obasa). 


Puisi : 

"Riya’ dan Ujub"

Aku beramal di terang siang,
namun hatiku mencari tepuk tangan;
lisan menyebut nama Tuhan,
jiwa diam-diam berharap pujian.

Aku memberi, aku bersujud,
lalu memuji diriku sendiri;
lupa bahwa setiap kebaikan
hanyalah titipan dari Ilahi..

Riya’ membelokkan arah niat,
ujub meninggikan ego perlahan;
amal tampak hidup di mata manusia,
namun gugur di hadapan Tuhan.

Ya Allah, luruskanlah hatiku,
ajarkan aku mencinta-Mu dalam diam;
biarlah amal kecil tanpa nama,
asal Engkau ridha dan menerimanya. (Obasa) 


Pendahuluan

Portal Suara Academia: Tidak sedikit manusia yang rajin beribadah, aktif bersedekah, berjuang di jalan sosial dan keagamaan, bahkan tampil sebagai tokoh umat. Namun di sisi Allah, semua itu bisa tidak bernilai apa-apa. Bukan karena amalnya kurang, melainkan karena niatnya rusak. Dalam Islam, inilah tragedi terbesar: amal besar, pahala hilang.

Dua penyakit hati yang paling sering menjadi penyebabnya adalah riya’ dan ujub. Keduanya sangat halus, sering tidak disadari, bahkan kerap dibungkus dengan dalih kebaikan. Padahal, dampaknya sangat mematikan: menghapus pahala dan merusak jiwa.


Memahami Hakikat Riya’: Ibadah yang Tertuju ke Manusia

Apa Itu Riya’?

Secara bahasa, riya’ berasal dari kata ra’a yang berarti melihat. Secara istilah, riya’ adalah melakukan amal ibadah dengan tujuan agar dilihat, dipuji, dan diakui oleh manusia, bukan semata-mata karena Allah.

Riya’ bukan berarti meninggalkan ibadah, tetapi merusak arah ibadah. Dari yang seharusnya menuju Allah, berpaling ke makhluk.


Dalil Al-Qur’an tentang Riya’

Allah SWT berfirman:

“Maka celakalah orang-orang yang shalat, yaitu orang-orang yang lalai dari shalatnya, yang berbuat riya’.” (QS. Al-Ma’un: 4–6)


Ayat ini sangat tegas. Bahkan shalat, ibadah paling agung, bisa menjadi sebab kecelakaan spiritual jika dilakukan dengan riya’.

Rasulullah ﷺ juga bersabda:

“Sesungguhnya yang paling aku takutkan atas kalian adalah syirik kecil.”

Para sahabat bertanya, “Apakah itu syirik kecil, wahai Rasulullah?”

Beliau menjawab, “Riya’.” (HR. Ahmad)

Riya’ disebut syirik kecil karena menjadikan manusia sebagai sekutu Allah dalam tujuan ibadah.


Wajah-Wajah Riya’ di Zaman Modern

Riya’ tidak selalu berbentuk kasar. Di era modern, riya’ tampil lebih halus dan sistematis:

  1. Riya’ ibadah: shalat, sedekah, puasa, atau haji agar disebut saleh.
  2. Riya’ ilmu dan dakwah: berbicara agama untuk popularitas dan panggung.
  3. Riya’ jabatan sosial: aktif organisasi demi citra, bukan amanah.
  4. Riya’ digital: memamerkan amal di media sosial tanpa maslahat syar’i, hanya demi validasi dan pujian.

Inilah riya’ gaya baru: amal dikemas, dipoles, dan dijual untuk citra diri.


Ujub: Ketika Amal Melahirkan Kesombongan

Definisi Ujub

Berbeda dengan riya’, ujub adalah rasa kagum berlebihan terhadap diri sendiri. Merasa amalnya paling banyak, ilmunya paling tinggi, jasanya paling besar, hingga lupa bahwa semua itu hanyalah karunia Allah.

Jika riya’ mengarah keluar (kepada manusia), ujub mengarah ke dalam (ego diri).


Dalil tentang Ujub

Allah SWT berfirman:

“Janganlah kamu menganggap dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui siapa yang bertakwa.” (QS. An-Najm: 32)

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Tiga perkara yang membinasakan: kekikiran yang ditaati, hawa nafsu yang diikuti, dan seseorang yang kagum terhadap dirinya sendiri (ujub).” (HR. Thabrani)

Ujub adalah awal dari kesombongan, dan kesombongan adalah sifat iblis.


Riya’ dan Ujub: Dua Saudara yang Saling Menguatkan

Riya’ dan ujub sering berjalan bersama:

  • Riya’ melahirkan ujub setelah pujian datang
  • Ujub melahirkan riya’ karena ingin terus dipuji

Keduanya menumbuhkan ego dan merusak keikhlasan

Akhirnya, seseorang:

  • Merasa paling benar
  • Sulit dinasihati
  • Mudah merendahkan orang lain
  • Menganggap amal sebagai prestasi pribadi

Inilah kerusakan batin yang sering tidak disadari oleh orang-orang yang tampak saleh.


Filosofi Kehidupan Islami: Amal Bukan Prestasi, tapi Amanah

Islam mengajarkan filosofi hidup yang sangat mendalam:

  1. Manusia bukan pemilik amal, melainkan pelaksana.
  2. Kemampuan berbuat baik adalah hidayah, bukan kehebatan diri.
  3. Amal sebesar apa pun belum tentu diterima tanpa keikhlasan.

Imam Al-Ghazali menyatakan bahwa ujub muncul karena ketidaktahuan terhadap hakikat diri. Jika manusia sadar bahwa:

  • dirinya lemah,
  • penuh dosa,
  • hidup karena rahmat Allah,

maka tidak ada ruang untuk sombong.


Dampak Riya’ dan Ujub bagi Individu

1. Hilangnya pahala amal

2. Hati keras dan sulit ikhlas

3. Kecanduan pujian

4. Stres saat tidak dihargai

5. Kehilangan ketenangan batin

Ironisnya, orang yang riya’ sering terlihat bahagia di luar, tetapi gelisah di dalam.


Dampak Sosial dan Umat

Riya’ dan ujub tidak hanya merusak individu, tetapi juga umat:

  • Persaingan tidak sehat dalam kebaikan
  • Konflik karena ego dan merasa paling berjasa
  • Rusaknya kepemimpinan
  • Hilangnya keberkahan organisasi dan dakwah

Banyak kerusakan umat bukan karena kurangnya aktivitas, tetapi karena hilangnya keikhlasan kolektif.


Cara Mengobati Riya’ dan Ujub Secara Islami

1. Meluruskan Niat Secara Berulang

Niat tidak cukup sekali. Ia harus diperbaiki:

  • sebelum beramal
  • saat beramal
  • setelah beramal

2. Menyembunyikan Amal

Rasulullah ﷺ menganjurkan amal yang tersembunyi, karena:

  • lebih ikhlas
  • lebih selamat
  • lebih dekat dengan Allah

3. Mengingat Dosa Pribadi

Mengingat dosa membuat hati rendah dan tidak mudah ujub.

4. Takut Amal Tidak Diterima

Para sahabat takut amalnya ditolak, meskipun mereka ahli ibadah.

5. Memperbanyak Doa Keikhlasan

Doa Rasulullah ﷺ:

“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari menyekutukan-Mu sementara aku mengetahuinya, dan aku memohon ampun atas apa yang tidak aku ketahui.” (HR. Ahmad)


Rekomendasi Praktis di Era Digital

  1. Bijak bermedia sosial, jangan semua amal diumbar.
  2. Tampilkan amal hanya jika ada maslahat dakwah, bukan pencitraan.
  3. Perbanyak amal sunyi, yang hanya Allah dan kita yang tahu.
  4. Bangun budaya saling menasihati, bukan saling memuja.
  5. Dekat dengan orang-orang tawadhu’, bukan pemburu pujian.


Penutup: Ikhlas adalah Puncak Kedewasaan Iman

Riya’ dan ujub adalah musuh dari dalam, musuh yang tidak berisik, tetapi mematikan. Ia tidak menghancurkan amal secara fisik, tetapi menghapus nilainya di sisi Allah.

Islam tidak melarang amal besar, pengaruh luas, atau posisi strategis. Yang dituntut adalah hati yang bersih, niat yang lurus, dan jiwa yang rendah hati.

Semoga Allah menjaga hati kita dari riya’ dan ujub, menerima amal-amal kita, dan menjadikan kita hamba-hamba-Nya yang ikhlas, tawadhu’, dan istiqamah di jalan-Nya.

Aamiin ya Rabbal ‘alamin.

(Obasa)



Portal Suara Academia hadir sebagai platform akademis berkualitas dengan artikel ilmiah, diskusi panel, dan ulasan buku oleh Profesional dan Akademisi terkemuka, dengan standar tinggi dan etika yang ketat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Baca Juga :

Translate

Cari Blog Ini