Jumat, 16 Januari 2026

Mengapa Konflik Antar Negeri, Antar Kampung, dan Antar Kelompok Terus Terjadi?

Bukan Ulah Orang Bodoh, Melainkan Rekayasa Orang Cerdas yang Gagal Sukses

Oleh ; Basa Alim Tualeka (obasa)


Puisi: 

"Api yang Dinyalakan Akal Tanpa Nurani"

Bukan tangan kasar yang menyalakan api,
melainkan jari halus yang pandai berhitung.
Bukan lidah gagap yang memecah kampung,
tetapi suara fasih yang kehilangan arah hidup.

Api itu lahir dari pikiran yang cerdas,
namun gagal menemukan makna sukses.
Ia tahu cara menyusun kata,
tahu sejarah luka dan dendam lama,
lalu meniupnya pelan—
hingga bara berubah bencana.

Orang kecil hanya ikut berlari,
tak paham siapa yang menjeritkan “harga diri”.
Rumah terbakar, anak kehilangan ayah,
namun dalang berdiri rapi di balik layar.

Mereka berkata: ini demi kehormatan,
padahal yang dicari hanya pengakuan.
Mereka bicara tentang kebenaran,
namun lupa menanyakan keadilan.

Agama disebut, adat dikibarkan,
namun nurani ditinggalkan.
Padahal Tuhan mencintai damai,
bukan amarah yang dipoles dalil dan simbol suci.

Seandainya akal mau bersujud,
dan ilmu berpeluk dengan rendah hati,
tak akan ada kampung jadi abu,
tak ada negeri menangisi diri sendiri.

Orang bijak memadamkan api,
orang besar memeluk perbedaan,
orang pintar tanpa nurani—
menyalakan konflik lalu menyebutnya perjuangan.

Maka belajarlah menjadi manusia utuh,
cerdas, sukses, dan bermakna.
Sebab damai bukan tanda kalah,
melainkan puncak tertinggi kemenangan jiwa.(obasa) 


1. Pengantar Realitas Sosial: Kesalahan Umum dalam Memahami Konflik

Portal Suara Academia:  Di tengah masyarakat, sering terdengar anggapan bahwa konflik antar negeri, antar kampung, dan antar kelompok terjadi karena kebodohan, kemiskinan, atau pengangguran. Anggapan ini terdengar masuk akal, tetapi sejatinya terlalu sederhana dan menyesatkan. Jika konflik hanya disebabkan oleh orang bodoh dan menganggur, maka konflik tidak akan pernah terorganisir, tidak memiliki pola, dan tidak berulang dengan skenario yang hampir sama.

Fakta sosial menunjukkan bahwa konflik horizontal hampir selalu memiliki aktor intelektual di baliknya. Konflik bukan peristiwa spontan, melainkan hasil rekayasa sosial yang matang.


2. Siapa Aktor Utama di Balik Konflik Horizontal

Dalam hampir semua konflik besar, selalu ditemukan:

  • tokoh informal,
  • elite lokal,
  • mantan pejabat,
  • intelektual yang gagal,
  • pengusaha yang jatuh,
  • atau politisi yang tersingkir.

Mereka bukan orang bodoh. Mereka cerdas, paham sejarah lokal, menguasai bahasa emosi massa, dan tahu titik lemah masyarakat. Namun yang membedakan, mereka tidak sukses—baik secara ekonomi, sosial, maupun moral.


3. Kecerdasan Tanpa Kesuksesan: Sumber Frustrasi Sosial

Orang cerdas yang gagal sering merasa:

  • dirinya lebih pantas dihormati,
  • lebih layak memimpin,
  • lebih tahu kebenaran dibanding orang lain.

Ketika realitas tidak sesuai harapan, lahirlah frustrasi. Frustrasi yang tidak dikelola berubah menjadi amarah sosial. Amarah inilah yang kemudian disalurkan melalui konflik.

Dalam filsafat kehidupan, ini disebut akal yang kalah oleh ego. Akal mampu menyusun strategi, tetapi ego menuntut pengakuan instan.


4. Konflik Bukan Ledakan Emosi, tetapi Produk Perencanaan

Konflik jarang muncul tanpa persiapan. Selalu ada:

  • narasi “kami dizalimi”,
  • simbol identitas yang diprovokasi,
  • isu lama yang dihidupkan kembali,
  • cerita sejarah yang dipelintir.

Semua ini memerlukan kecerdasan. Orang bodoh tidak mampu membangun narasi, apalagi menggerakkan massa lintas kampung atau kelompok.

Allah SWT berfirman:

“Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap negeri pembesar-pembesar orang yang berdosa agar mereka melakukan tipu daya di negeri itu.” (QS. Al-An‘am: 123)

Ayat ini menjelaskan bahwa kerusakan sosial sering dirancang oleh orang-orang berpengaruh dan cerdik.


5. Orang Bodoh dan Pengangguran: Korban, Bukan Dalang

Orang bodoh dan pengangguran umumnya:

  • sibuk memenuhi kebutuhan hidup,
  • tidak memiliki akses informasi,
  • tidak menguasai wacana publik,
  • tidak punya jaringan kekuasaan.

Mereka mudah diprovokasi, tetapi bukan penggerak utama. Dalam konflik, merekalah yang:

  • kehilangan rumah,
  • kehilangan pekerjaan,
  • kehilangan nyawa.

Sedangkan aktor intelektual sering tampil rapi, berbicara damai di depan publik, bahkan menjadi “penengah”.


6. Konflik sebagai Jalan Pintas Meraih Pengaruh

Bagi orang cerdas tapi tidak sukses, konflik adalah:

  • jalan cepat menjadi tokoh,
  • sarana memperoleh pengikut,
  • alat tawar-menawar dengan penguasa,
  • media mencari proyek, bantuan, dan dana.

Dalam teori sosial, ini disebut kapitalisasi konflik—mengubah kekacauan menjadi sumber keuntungan pribadi.

Rasulullah ﷺ bersabda:

Bukanlah orang kuat itu yang menang dalam bergulat, tetapi orang kuat adalah yang mampu menahan amarahnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis ini menegaskan bahwa kecerdasan sejati bukan pada kemampuan memprovokasi, tetapi pada kemampuan meredam.


7. Manipulasi Identitas: Senjata Paling Efektif

Identitas suku, agama, adat, dan kampung adalah perekat sosial. Namun di tangan orang cerdas yang gagal, identitas berubah menjadi senjata.

Mereka memanfaatkan:

  • perasaan harga diri,
  • kebanggaan kelompok,
  • luka sejarah,
  • kecemburuan sosial.

Masyarakat digiring untuk membela identitas, bukan kebenaran. Akal sehat dikalahkan oleh emosi kolektif.


8. Budaya Luka dan Ingatan Kolektif

Konflik jarang berdiri sendiri. Ia selalu dikaitkan dengan:

  • dendam turun-temurun,
  • konflik lama yang belum selesai,
  • cerita masa lalu yang dibesar-besarkan.

Orang bijak menyembuhkan luka. Orang cerdas yang gagal justru mengorek luka demi kepentingannya. Dalam kearifan lokal, ini dianggap perbuatan tidak beradab.

Allah SWT berfirman:

Dan janganlah kebencian suatu kaum mendorong kamu untuk berlaku tidak adil.” (QS. Al-Ma’idah: 8)


9. Gagal Memahami Makna Kesuksesan

Kesuksesan sejati dalam masyarakat bukan sekadar:

  • jabatan,
  • kekayaan,
  • popularitas.
Kesuksesan sejati adalah:
  • kebermanfaatan,
  • keteladanan,
  • ketenangan jiwa,
  • kemampuan menjaga harmoni.

Orang cerdas yang gagal memahami ini menjadikan konflik sebagai kompensasi ego. Mereka merasa besar ketika mampu menggerakkan massa, meski merusak banyak kehidupan.


10. Konflik sebagai Cermin Kegagalan Elite

Dalam filsafat sosial, konflik horizontal adalah tanda:

  • kegagalan kepemimpinan,
  • runtuhnya keteladanan moral,
  • matinya dialog,
  • lemahnya keadilan.

Masyarakat yang adil tidak mudah diadu domba. Masyarakat yang sejahtera tidak butuh provokator. Maka konflik bukan soal rakyat bodoh, tetapi soal elite yang kehilangan nurani.


11. Peran Agama: Menjaga Akal Sehat dan Moral Publik

Agama hadir untuk menenangkan, bukan memanaskan. Namun orang cerdas yang gagal sering memanfaatkan agama sebagai alat legitimasi konflik.

Padahal Rasulullah ﷺ bersabda:

Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.” (HR. Ahmad)

Konflik yang merusak kehidupan jelas bertentangan dengan tujuan agama.


12. Negara, Hukum, dan Tanggung Jawab Moral

Negara sering datang terlambat: setelah konflik meledak. Padahal pencegahan jauh lebih penting, melalui:

  • keadilan sosial,
  • pemerataan ekonomi,
  • pendidikan karakter,
  • keteladanan elite.

Jika negara lemah, ruang kosong akan diisi oleh provokator cerdas yang gagal.


13. Filosofi Kehidupan: Orang Besar Memadamkan Api

Dalam filosofi masyarakat timur:

  • orang kecil membesar-besarkan masalah,
  • orang besar mengecilkan konflik,
  • orang bijak memadamkan api sebelum membesar.

Konflik adalah tanda bahwa terlalu banyak orang cerdas tetapi sedikit orang bijak.


14. Jalan Keluar dari Lingkaran Konflik

Solusi konflik bukan hanya keamanan, tetapi:

  1. keadilan yang nyata,
  2. kepemimpinan yang jujur,
  3. pendidikan akal sehat,
  4. elite yang rendah hati,
  5. agama yang mencerahkan.

Allah SWT berfirman:

Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” (QS. Ar-Ra‘d: 11)


15. Penutup: Kecerdasan Harus Dibimbing Nurani

Konflik antar negeri, antar kampung, dan antar kelompok bukan bukti kebodohan rakyat, melainkan bukti kegagalan moral orang-orang cerdas. Selama kecerdasan tidak dibimbing kesuksesan sejati dan nurani, konflik akan terus diproduksi.

Masyarakat membutuhkan lebih banyak orang bijak, bukan sekadar orang pintar. Sebab orang pintar bisa membuat konflik, tetapi hanya orang bijak yang mampu menjaga perdamaian. (Obasa)



Portal Suara Academia hadir sebagai platform akademis berkualitas dengan artikel ilmiah, diskusi panel, dan ulasan buku oleh Profesional dan Akademisi terkemuka, dengan standar tinggi dan etika yang ketat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Baca Juga :

Translate

Cari Blog Ini