Membongkar Strategi Pecah Belah, Kapitalisme Global, dan Kelemahan Internal Bangsa
Oleh : Dr. Basa Alim Tualeka MSi (obasa)
Portal Suara Academia: Isu tentang kapitalisme global, pengkhianatan elite, politik pecah belah, hingga proxy war terus bergema dalam ruang publik. Narasi ini biasanya muncul saat rakyat merasakan ketidakadilan ekonomi, konflik sosial, serta penguasaan sumber daya alam (SDA) oleh kelompok tertentu.
Namun pertanyaannya:
- Apakah benar semua ini murni skenario kekuatan asing?
- Ataukah ada kelemahan internal yang membuka pintu?
Untuk menjawabnya, kita perlu melihat sejarah, teori geopolitik, ekonomi politik, dan pendapat para pakar secara objektif.
1️⃣ Warisan Kolonial: Politik Pecah Belah Itu Nyata
Strategi “divide et impera” bukan mitos. Pada masa kolonial, Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) menggunakan politik pecah belah untuk melemahkan kerajaan-kerajaan Nusantara.
Alih-alih menyerang langsung dengan kekuatan militer besar, VOC memanfaatkan konflik internal: perebutan tahta, perselisihan elite, dan rivalitas antarkerajaan.
Sejarawan Ong Hok Ham menjelaskan bahwa kolonialisme berhasil bukan hanya karena kecanggihan senjata, tetapi karena elite lokal sering terlibat dalam persekutuan pragmatis demi kepentingan sesaat.
Pelajaran pentingnya: kekuatan luar tidak akan berhasil tanpa pintu dari dalam.
2️⃣ Proxy War: Perang Tanpa Senjata Terbuka
Dalam studi hubungan internasional, proxy war menjadi strategi utama dalam Perang Dingin antara Amerika Serikat dan Uni Soviet.
Alih-alih perang langsung, kedua negara adidaya ini mendukung pihak-pihak tertentu di negara lain untuk memperluas pengaruh.
Ahli realisme ofensif John J. Mearsheimer menyatakan bahwa negara besar selalu berupaya menjaga dominasi regionalnya dengan segala instrumen: ekonomi, diplomasi, intelijen, bahkan konflik tidak langsung.
Namun Mearsheimer juga menegaskan: negara dengan institusi kuat dan kepemimpinan berintegritas jauh lebih sulit dijadikan arena proxy.
Artinya, faktor internal tetap menjadi kunci.
3️⃣ Kapitalisme Global dan Penguasaan SDA
Di era globalisasi, penguasaan SDA bukan lagi soal penjajahan fisik, tetapi penguasaan ekonomi dan kontrak jangka panjang.
Ekonom peraih Nobel Joseph Stiglitz mengkritik sistem global yang seringkali timpang. Dalam pandangannya, negara berkembang cenderung berada pada posisi tawar yang lemah dalam negosiasi ekonomi internasional.
Di Indonesia, pemikir ekonomi kerakyatan seperti Sri Edi Swasono menegaskan bahwa ekonomi Pancasila harus menempatkan kedaulatan rakyat di atas kepentingan oligarki.
Ketika SDA dikuasai oleh segelintir korporasi besar, sering kali masalahnya bukan sekadar kekuatan asing, melainkan regulasi domestik yang longgar dan elite yang membuka akses.
4️⃣ Politik Identitas: Senjata Paling Efektif
Pecah belah tidak selalu melalui senjata. Ia bisa hadir melalui:
- Agama vs agama
- Kelompok buruh vs oligarki
- Suku vs suku
- Kampung vs kampung
- Pelajar vs pelajar
Sosiolog politik Robert Putnam melalui teori “social capital” menyebutkan bahwa masyarakat dengan tingkat kepercayaan sosial rendah mudah terfragmentasi.
Jika kohesi sosial lemah, provokasi kecil saja bisa membesar.
Dan ketika rakyat sibuk saling menyalahkan, siapa yang menikmati keuntungan?
Biasanya elite ekonomi dan politik.
5️⃣ Narkoba dan Disorientasi Generasi
Isu narkoba sering dikaitkan dengan upaya melemahkan generasi muda. Secara global, jaringan narkotika memang lintas negara.
Namun para kriminolog menekankan bahwa narkoba tumbuh subur di negara dengan:
- Ketimpangan sosial tinggi
- Aparat lemah atau korup
- Sistem hukum tidak konsisten
Tanpa celah internal, jaringan luar tidak mudah masuk.
6️⃣ Oligarki dan Elite Domestik: Faktor Penentu
Teori oligarki menjelaskan bahwa dalam banyak negara berkembang, kekuasaan ekonomi dan politik terkonsentrasi pada segelintir elite.
Jika elite ini:
- Mengabaikan kepentingan rakyat
- Memperjualbelikan kebijakan
- Mengabaikan lingkungan
Maka dampaknya adalah:
- Banjir akibat deforestasi
- Ketimpangan ekonomi
- Konflik horizontal
Bencana bukan sekadar faktor alam, tetapi hasil kebijakan.
7️⃣ Apakah Semua Ini Konspirasi?
Tidak semua dinamika nasional adalah hasil konspirasi asing. Tetapi juga tidak bisa dipungkiri bahwa dalam politik global, kepentingan selalu bermain.
Kekuatan besar tentu memiliki agenda ekonomi dan geopolitik. Namun keberhasilan agenda itu bergantung pada:
- Kelemahan sistem hukum
- Rendahnya integritas elite
- Lemahnya literasi politik rakyat
Jika tiga faktor ini kuat, intervensi luar sulit berhasil.
8️⃣ Rakyat Sibuk, Elite Tersenyum
Fenomena yang sering terjadi adalah rakyat terjebak dalam polarisasi:
- Debat identitas
- Adu opini media sosial
- Konflik kelompok kecil
Sementara itu, kebijakan strategis tentang SDA, investasi, dan utang negara berjalan tanpa pengawasan publik yang memadai.
Ketika masyarakat terpecah, kontrol terhadap kekuasaan melemah.
9️⃣ Solusi: Bangun Kekuatan dari Dalam
Daripada sekadar menyalahkan “pengkhianat”, solusi strategis lebih penting:
🔹 1. Penguatan Institusi Hukum
Tanpa hukum yang tegas dan adil, pengkhianatan selalu menemukan ruang.
🔹 2. Transparansi Pengelolaan SDA
Kontrak publik harus terbuka dan dapat diawasi.
🔹 3. Pendidikan Politik dan Literasi Digital
Agar rakyat tidak mudah diadu domba.
🔹 4. Reformasi Ekonomi Berbasis Kedaulatan
Koperasi, UMKM, dan ekonomi rakyat harus diperkuat.
🔹 5. Integritas Kepemimpinan
Pemimpin sejati tidak bermain di wilayah abu-abu kepentingan.
🔟 Refleksi Kebangsaan: Musuh Terbesar Ada di Dalam
Sejarah membuktikan bahwa bangsa ini pernah jatuh karena perpecahan. Tetapi sejarah juga menunjukkan bahwa bangsa ini bangkit karena persatuan.
Kekuatan asing mungkin memiliki strategi. Kapitalisme global mungkin memiliki kepentingan. Namun jika bangsa ini:
- Bersatu
- Menegakkan hukum
- Mengutamakan kepentingan rakyat
- Mengelola SDA dengan bijak
Maka tidak ada kekuatan luar yang mampu menguasai.
Sebaliknya, jika kita terus terjebak dalam konflik horizontal dan saling tuduh, maka siklus itu akan berulang.
Penutup: Bangsa Besar Tidak Mudah Diadu Domba
Narasi tentang proxy, pengkhianatan, dan kapitalisme bisa menjadi alarm kesadaran. Tetapi alarm tanpa solusi hanya akan menjadi kebisingan.
Bangsa besar bukan yang bebas dari ancaman, tetapi yang mampu memperkuat dirinya dari dalam.
Karena pada akhirnya, pengkhianatan terbesar bukan ketika asing masuk,
melainkan ketika kita membiarkan integritas runtuh dan persatuan hancur.
tidak ada proxy yang bisa bekerja,
tidak ada kapitalis yang bisa menguasai sepenuhnya,
dan tidak ada pengkhianatan yang bertahan lama. (Obasa)
Portal Suara Academia hadir sebagai platform akademis berkualitas dengan artikel ilmiah, diskusi panel, dan ulasan buku oleh Profesional dan Akademisi terkemuka, dengan standar tinggi dan etika yang ketat.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar