Jumat, 12 September 2025

Manajemen Pengelolaan Masjid Jogokariyan Yogyakarta: Model Ideal dalam Syariat Islam

Manajemen Pengelolaan Masjid Jogokariyan Yogyakarta: Model Ideal dalam Syariat Islam

Oleh : Mohammad Tualeka 


Pendahuluan

Portal Suara Academia: Masjid Jogokariyan Yogyakarta menjadi salah satu ikon masjid yang dikelola dengan manajemen modern, profesional, namun tetap berpijak pada kesederhanaan dan syariat Islam. Keberhasilannya bukan hanya menarik jamaah untuk shalat, tetapi juga menjadikan masjid sebagai pusat pemberdayaan umat. Fenomena ini menjadi perhatian publik karena memberi gambaran bahwa masjid tidak sekadar tempat ibadah ritual, tetapi juga pusat sosial, ekonomi, pendidikan, dan dakwah sesuai dengan ajaran Islam.


Konsep Dasar: Masjid Sebagai Pusat Kehidupan

Dalam sejarah Islam, masjid sejak zaman Rasulullah ﷺ di Madinah (Masjid Nabawi) sudah difungsikan sebagai pusat segala aktivitas umat. Rasulullah ﷺ menjadikan masjid sebagai tempat shalat berjamaah, majelis ilmu, musyawarah politik, pusat peradilan, hingga tempat mengatur strategi jihad.

Allah SWT berfirman:

"Hanyalah yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Hari Kemudian, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan tidak takut kepada siapa pun selain kepada Allah. Maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk." (QS. At-Taubah: 18)

Ayat ini menjadi dasar bahwa memakmurkan masjid tidak terbatas pada ibadah mahdhah, tetapi juga pemberdayaan umat.


Prinsip Kesederhanaan: Teladan Rasulullah

Kesederhanaan pengelolaan Masjid Jogokariyan merefleksikan teladan Rasulullah ﷺ yang selalu memilih hidup sederhana, walau berkesempatan hidup berlimpah. Kesederhanaan ini menjaga keikhlasan dan menjauhkan masjid dari kesan elitis.

Rasulullah ﷺ bersabda:

"Kesederhanaan adalah sebagian dari iman." (HR. Abu Dawud)

Dengan kesederhanaan, masjid tidak membebani jamaah dengan biaya, tetapi menggerakkan partisipasi umat atas dasar keikhlasan. Hal ini terlihat pada program “infaq transparan” Jogokariyan, di mana setiap rupiah dicatat, diumumkan, dan dikelola untuk kemaslahatan jamaah.


Manajemen Profesional: Akuntabilitas dan Transparansi

Masjid Jogokariyan menerapkan sistem manajemen modern yang selaras dengan prinsip syariat:

1. Transparansi Keuangan

Setiap infaq diumumkan di papan pengumuman.

Tidak ada saldo tidur, semua dana segera disalurkan untuk kepentingan umat.

Hal ini sesuai dengan firman Allah:

“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan apabila kamu menetapkan hukum di antara manusia hendaklah kamu menetapkan dengan adil.” (QS. An-Nisa: 58)


2. Pelayanan Jamaah

Masjid menyediakan fasilitas kebersihan, kenyamanan, dan kebutuhan sosial jamaah. Prinsipnya, jamaah harus merasa masjid adalah rumahnya sendiri.


3. Pemberdayaan Ekonomi Umat

Melalui program kewirausahaan, pelatihan, dan pembiayaan berbasis jamaah, Jogokariyan menjadikan masjid sebagai motor ekonomi kerakyatan.

Hablumminallah dan Hablumminannas dalam Masjid

Hablumminallah (hubungan dengan Allah):

Terwujud melalui ibadah mahdhah seperti shalat, zikir, doa, dan kajian ilmu. Masjid menjadi pusat penguatan tauhid dan ibadah.

Hablumminannas (hubungan dengan manusia):

Terwujud melalui program sosial: santunan fakir miskin, layanan kesehatan, pendidikan gratis, hingga pembiayaan usaha jamaah.

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lain.” (HR. Ahmad)

Jogokariyan membuktikan bahwa masjid bisa menjadi pusat kebermanfaatan umat secara nyata.


Filosofi Kehidupan Islam dalam Pengelolaan Masjid

1. Amanah dan Akuntabilitas

Pengurus masjid adalah pemegang amanah, harus menjaga kepercayaan jamaah.

2. Syura (Musyawarah)

Setiap keputusan melibatkan jamaah, sesuai QS. Asy-Syura: 38.

3. Kesetaraan

Semua jamaah diperlakukan sama tanpa diskriminasi, merefleksikan ukhuwah Islamiyah.

4. Keberlanjutan

Program masjid dirancang bukan hanya untuk jangka pendek, tetapi juga membangun generasi mendatang.


Kesimpulan

Masjid Jogokariyan Yogyakarta telah menjadi model pengelolaan masjid ideal: sederhana, profesional, islami, dan memberdayakan umat. Dengan dalil dan syariat Islam sebagai landasan, masjid ini membuktikan bahwa kesungguhan manajemen, transparansi, serta penguatan hablumminallah dan hablumminannas mampu menghadirkan masjid sebagai pusat kebangkitan peradaban Islam.

Jika setiap masjid di Indonesia mencontoh model ini, maka masjid akan kembali pada fungsinya yang sejati: bukan hanya tempat shalat, tetapi juga pusat lahirnya kemandirian, persatuan, dan kemajuan umat.



Portal Suara Academia hadir sebagai platform akademis berkualitas dengan artikel ilmiah, diskusi panel, dan ulasan buku oleh Profesional dan Akademisi terkemuka, dengan standar tinggi dan etika yang ketat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Baca Juga :

Translate

Cari Blog Ini