Menyampaikan Kebaikan Lebih Baik Daripada Diam
Oleh: Basa Alim Tualeka (Obasa)
Puisi :
Pendahuluan
Portal Suara Academia: Setiap zaman memiliki tantangannya sendiri, dan salah satu tantangan terbesar manusia modern adalah bagaimana menggunakan lisan dan media komunikasi secara bijak. Di tengah derasnya arus informasi, berita palsu, dan ujaran kebencian, kemampuan untuk menyampaikan kebaikan menjadi nilai yang semakin langka namun sangat dibutuhkan.
Lisan adalah karunia besar yang diberikan Allah kepada manusia. Melalui lisan, manusia dapat menegakkan kebenaran, menanamkan kasih sayang, dan menyebarkan ilmu pengetahuan. Namun, pada saat yang sama, lisan juga bisa menjadi senjata tajam yang melukai hati, menimbulkan perpecahan, dan merusak kehormatan bila tidak dijaga dengan iman dan adab.
Rasulullah ﷺ mengingatkan:
“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata yang baik atau diam.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadits ini menunjukkan bahwa berbicara adalah ibadah, dan diam pun bisa menjadi ibadah... tergantung pada niat, waktu, dan manfaatnya.
Kebijaksanaan Islam tidak sekadar menilai banyaknya ucapan, tetapi kualitas dari setiap kata yang diucapkan.
Dalam kehidupan sosial, Islam tidak hanya mengajarkan agar kita menjauhi ucapan yang buruk, tetapi juga mendorong untuk menyebarkan kebaikan. Menjadi manusia yang baik bukan hanya dengan diam agar tidak salah, tetapi juga dengan aktif menebar manfaat, inspirasi, dan keteladanan.
Sabda Nabi ﷺ:
“Orang yang menunjukkan kepada kebaikan akan mendapat pahala seperti pahala orang yang melakukannya.” (HR. Muslim)
Dengan demikian, menyampaikan kebaikan lebih baik daripada diam, dan diam lebih baik daripada menyampaikan keburukan.
Kedua nilai ini adalah dua sisi keseimbangan akhlak: satu aktif menggerakkan, satu pasif menahan, keduanya sama-sama menuju kemuliaan.
1. Hakikat Menyampaikan Kebaikan
Menyampaikan kebaikan adalah bagian dari amar ma’ruf nahi munkar — inti ajaran Islam yang membangun masyarakat beradab.
Allah SWT berfirman:
“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.” (QS. Ali Imran: 104)
Ayat ini menegaskan bahwa menyampaikan kebaikan bukan sekadar pilihan moral, tetapi kewajiban sosial dan spiritual.
Seseorang tidak boleh hanya menjadi penonton di tengah kerusakan moral; ia harus menjadi pelita kecil yang menuntun manusia pada cahaya kebenaran.
Menyampaikan kebaikan dapat dilakukan dengan berbagai cara: ucapan lembut, nasihat bijak, teladan hidup, karya ilmiah, atau bahkan senyum yang menenangkan. Rasulullah ﷺ bersabda:
“Senyummu kepada saudaramu adalah sedekah.” (HR. Tirmidzi)
Setiap kebaikan yang diucapkan atau diperbuat akan kembali kepada diri pelakunya. Dalam logika spiritual, kebaikan yang disebar tidak pernah hilang; ia berputar dalam siklus amal yang terus hidup walau manusia telah tiada.
2. Filosofi Kata: Cermin dari Hati
Lisan adalah jendela hati.
Ketika hati penuh dengan keimanan, lisan akan menebar kedamaian; ketika hati gelap oleh kebencian, lisan menjadi sumber permusuhan.
Imam Al-Ghazali berkata dalam Ihya’ Ulumuddin:
“Setiap kata adalah anak dari hati. Bila hati bersih, maka anak-anaknya akan indah; bila hati kotor, maka anak-anaknya cacat dan menyakitkan.”
Filsafat Islam memandang bahwa berbicara bukan hanya aktivitas fisik, tetapi manifestasi batin dan niat.
Oleh karena itu, menyampaikan kebaikan menjadi cara untuk menata hati. Ketika seseorang terbiasa menebar kalimat yang menenangkan dan memotivasi, ia sebenarnya sedang melatih dirinya untuk menjadi pribadi yang damai dan berakal sehat.
Socrates, filsuf Yunani, bahkan menegaskan prinsip tiga saringan sebelum berbicara:
1. Apakah benar?
2. Apakah baik?
3. Apakah bermanfaat?
Prinsip ini sejalan dengan Islam, di mana setiap ucapan yang tidak mengandung kebenaran, kebaikan, dan manfaat, sebaiknya ditahan.
3. Diam sebagai Ibadah dan Benteng Jiwa
Dalam kehidupan, tidak semua hal perlu diucapkan. Ada waktu untuk bicara, ada waktu untuk diam.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Barang siapa diam, maka ia selamat.” (HR. Tirmidzi)
Diam dalam konteks ini bukan berarti takut atau acuh, tetapi tanda kedewasaan spiritual — kemampuan menahan diri ketika kata tidak membawa manfaat.
Diam adalah bentuk zuhud lisan, menjaga diri agar tidak tergelincir dalam ghibah, fitnah, atau ucapan yang sia-sia.
Allah SWT mengingatkan:
“Tiada suatu ucapan pun yang diucapkannya, melainkan ada di sisinya malaikat pengawas yang selalu siap (mencatat).” (QS. Qaf: 18)
Ayat ini menunjukkan bahwa setiap kata adalah tanggung jawab. Maka, diam ketika marah, kecewa, atau tidak tahu kebenaran adalah bagian dari kecerdasan moral.
Para ulama mengatakan:
“Diam pada waktunya adalah emas, berbicara pada waktunya adalah permata.”
4. Menyampaikan Kebaikan di Tengah Keburukan Sosial
Zaman ini penuh dengan kebisingan moral.
Setiap orang mudah berbicara, tetapi tidak semua mengandung nilai.
Media sosial telah menjadikan dunia sebagai ruang terbuka, namun juga tempat yang rawan fitnah dan kebencian.
Dalam situasi demikian, menyampaikan kebaikan adalah bentuk jihad yang luhur.
Allah SWT berfirman:
“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik, dan bantahlah mereka dengan cara yang baik.” (QS. An-Nahl: 125)
Kata “hikmah” menunjukkan bahwa menyampaikan kebaikan memerlukan kecerdasan, kelembutan, dan ketepatan situasi.
Kebaikan tidak bisa dipaksakan; ia harus disampaikan dengan cinta.
Dalam masyarakat yang terluka oleh perbedaan, kebencian, dan ketidakadilan, kata-kata baik adalah penyembuh batin.
Satu kalimat bijak bisa menenangkan ratusan hati yang resah, sementara satu ucapan kasar dapat menghancurkan persaudaraan yang lama terjalin.
5. Kebaikan sebagai Energi Sosial dan Spiritual
Islam mengajarkan bahwa amal baik tidak berhenti pada pelakunya.
Kebaikan yang disampaikan akan mengalir menjadi energi sosial, memperkuat jaringan kemanusiaan.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Barang siapa yang menuntun orang lain kepada kebaikan, maka baginya pahala seperti orang yang melakukannya, tanpa mengurangi pahala orang tersebut sedikit pun.” (HR. Muslim)
Dalam pandangan filsafat sosial, kebaikan memiliki daya resonansi.
Satu kebaikan kecil dapat menggerakkan banyak kebaikan lain — menciptakan efek domino spiritual.
Satu nasihat baik dapat menyelamatkan jiwa; satu tulisan inspiratif dapat mengubah arah hidup seseorang.
Maka, menyampaikan kebaikan bukan sekadar tindakan moral, tetapi investasi sosial dan amal jariyah yang tak akan terputus.
6. Etika Lisan sebagai Pilar Akhlak Rasulullah ﷺ
Rasulullah ﷺ adalah teladan agung dalam berbicara.
Beliau tidak pernah berkata kecuali yang benar dan lembut.
Allah berfirman:
“Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauh dari sekelilingmu.” (QS. Ali Imran: 159)
Kelembutan dalam berbicara adalah kekuatan moral.
Lisan yang lembut membuka hati, sedangkan kata yang kasar menutup jalan dakwah.
Rasulullah ﷺ juga bersabda:
“Tidak ada sesuatu yang lebih berat pada timbangan seorang mukmin pada hari kiamat daripada akhlak yang baik.” (HR. Abu Dawud)
Artinya, akhlak berbicara adalah bagian penting dari amal.
Orang yang beriman sejati bukan yang banyak bicara, tetapi yang berbicara dengan hikmah dan kasih sayang.
7. Dimensi Filosofis: Antara Suara dan Sunyi
Manusia hidup di antara dua dunia: suara dan sunyi.
Suara adalah ekspresi keberanian dan komunikasi;
Sunyi adalah ruang refleksi dan kebijaksanaan.
Orang bijak tahu kapan bersuara dan kapan berdiam.
Bersuaralah ketika kebenaran terancam — sebab diam dalam kezaliman adalah bentuk pengkhianatan moral.
Tetapi diamlah ketika amarah menguasai — sebab berbicara tanpa kendali adalah bentuk kebodohan.
Dalam keseimbangan antara suara dan sunyi, manusia menemukan hikmah.
Filsafat kehidupan mengajarkan bahwa suara tanpa sunyi menjadi bising, dan sunyi tanpa suara menjadi beku.
Maka, keseimbangan keduanya adalah tanda kematangan spiritual.
Penutup
Hidup adalah perjalanan antara berbicara dan diam, antara memberi cahaya dan menjaga diri dari kegelapan.
Menyampaikan kebaikan berarti menyalakan lentera kehidupan,
sementara diam dari keburukan berarti menjaga agar api dosa tidak menyala di hati.
Sabda Nabi ﷺ menjadi pengingat abadi:
“Sesungguhnya seorang hamba mengucapkan satu kalimat yang diridhai Allah, tanpa ia sangka-sangka, namun Allah mengangkat derajatnya karenanya. Dan seorang hamba mengucapkan satu kalimat yang dimurkai Allah, tanpa ia sangka-sangka, namun ia terjerumus ke dalam neraka karenanya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Maka, jadikan setiap ucapan sebagai doa, setiap kata sebagai sedekah, dan setiap diam sebagai zikir.
Sebab dalam keseimbangan keduanya — antara kata yang menuntun dan diam yang menyelamatkan —
tercerminlah jati diri insan beriman yang berakal dan beradab. (Alim Academia)
Portal Suara Academia hadir sebagai platform akademis berkualitas dengan artikel ilmiah, diskusi panel, dan ulasan buku oleh Profesional dan Akademisi terkemuka, dengan standar tinggi dan etika yang ketat.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar