Kamis, 08 Januari 2026

KESEMPATAN EMAS SELALU MENYAMAR DALAM KESULITAN

Di Balik Kesulitan Ada Kemudahan, Di Balik Bencana Ada Rahmat, Di Balik Perbedaan Ada Kenikmatan Hidup

Oleh: Basa Alim Tualeka (obasa)


Puisi :  

"Kesempatan yang Menyamar"

Di jalan terjal hidup menguji langkah,
keringat jatuh bersama rasa lelah,
namun di balik luka yang tak terucap,
kesempatan emas diam-diam berjejak.

Saat gunung murka memuntahkan api,
manusia menangis, langit pun kelabu,
tapi tanah bangkit membawa janji,
rahmat tumbuh subur dari abu waktu.

Dalam beda suara dan warna jiwa,
sering kita lupa arti makna,
padahal di sana hidup terasa kaya,
nikmat hadir karena tak semua sama.

Maka bersabarlah menatap hari,
sebab Tuhan tak pernah keliru,
setiap sulit adalah jalan suci,
menuju mudah yang telah menunggu. (Obasa) 

 

Pendahuluan

Portal Suara Academia: Dalam pengalaman hidup manusia, jarang sekali kesempatan emas datang dalam kondisi yang nyaman dan menyenangkan. Justru sebaliknya, kesempatan besar hampir selalu muncul dalam bentuk kesulitan, tekanan, kegagalan, krisis, bahkan bencana. Banyak orang tidak gagal karena kurang kemampuan, tetapi karena salah membaca tanda-tanda kehidupan. Mereka berhenti pada rasa sakit, tanpa menyelami makna di baliknya.

Akal sehat mengajarkan bahwa hidup tidak mungkin berjalan lurus tanpa tikungan. Jika semua jalan datar, manusia tidak akan belajar keseimbangan. Jika tidak ada malam, manusia tidak akan menghargai siang. Jika tidak ada kesulitan, manusia tidak akan pernah tumbuh.

Islam, filsafat kehidupan, dan logika alam sejatinya bertemu pada satu titik: kesulitan bukan musuh manusia, melainkan guru yang keras namun jujur.

1. Hukum Kehidupan: Tidak Ada Mudah Tanpa Sulit

Allah SWT telah meletakkan hukum dasar kehidupan secara sangat rasional dan berulang dalam Al-Qur’an:

“Fa inna ma‘al ‘usri yusrā. Inna ma‘al ‘usri yusrā.” (QS. Al-Insyirah: 5–6)

Ayat ini bukan sekadar penghiburan spiritual, tetapi hukum kehidupan (sunatullah). Kata ma‘a (bersama) menunjukkan bahwa kesulitan dan kemudahan berjalan beriringan, bukan bergantian. Artinya, kemudahan sebenarnya sudah ada sejak kesulitan itu hadir, hanya belum terlihat.

Secara akal sehat:

  • Otot tidak akan kuat tanpa beban.
  • Pikiran tidak akan tajam tanpa masalah.
  • Kepemimpinan tidak lahir dari zona nyaman.
  • Ilmu tidak lahir tanpa pertanyaan dan kebingungan.

Jika hidup hanya berisi kemudahan, manusia akan rapuh, manja, dan kehilangan daya juang.

2. Kesempatan Emas Selalu Menyamar

Kesempatan emas jarang tampil dengan wajah indah. Ia menyamar sebagai:

  • kegagalan,
  • krisis ekonomi,
  • kehilangan pekerjaan,
  • tekanan hidup,
  • konflik,
  • bahkan penderitaan.

Banyak pengusaha besar lahir dari kebangkrutan. Banyak pemimpin matang lahir dari tekanan. Banyak orang bijak lahir dari luka panjang.

Secara logika:

  • Jika hidup nyaman, manusia cenderung stagnan.
  • Jika hidup tertekan, manusia dipaksa berpikir.
  • Jika dipaksa berpikir, lahirlah inovasi.
  • Dari inovasi, lahirlah peluang.

Inilah sebabnya mengapa orang yang hanya mencari kenyamanan sering kehilangan masa depan, sementara mereka yang bertahan dalam kesulitan justru menemukan jalan baru.

3. Di Balik Bencana Ada Rahmatan: Logika Alam

Gunung meletus sering dipahami hanya sebagai musibah. Namun alam tidak bekerja dengan emosi, ia bekerja dengan hukum keseimbangan jangka panjang.

Abu vulkanik:

  • menyuburkan tanah,
  • memperkaya mineral,
  • meningkatkan hasil pertanian,
  • membentuk ekosistem baru.
Fakta ilmiah menunjukkan bahwa wilayah sekitar gunung api aktif justru menjadi kawasan pertanian paling subur di dunia. Ini bukan kebetulan, melainkan hukum alam.

Allah mengingatkan manusia:

“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu.”v(QS. Al-Baqarah: 216)

Masalah manusia sering bukan pada peristiwa, tetapi pada kacamata penilaian yang sempit. Kita menilai hari ini, padahal alam bekerja untuk puluhan bahkan ratusan tahun ke depan.


4. Perbedaan Bukan Kutukan, Tapi Kenikmatan Hidup

Perbedaan sering dianggap sumber konflik, padahal perbedaan adalah bahan bakar peradaban.

Allah SWT berfirman:

“Wahai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal.” (QS. Al-Hujurat: 13)

Jika semua manusia sama:

  • tidak ada dialog,
  • tidak ada ilmu,
  • tidak ada seni,
  • tidak ada kemajuan.

Perbedaan pendapat melahirkan ilmu.
Perbedaan budaya melahirkan peradaban.
Perbedaan karakter melahirkan kerja sama.

Secara akal sehat:

Harmoni bukan berarti seragam.

Harmoni justru lahir dari perbedaan yang dikelola dengan kebijaksanaan.

Kenikmatan hidup muncul ketika manusia belajar menerima, bukan memaksakan kesamaan.

5. Ujian sebagai Proses Naik Kelas

Dalam sistem pendidikan, ujian bukan tanda kebencian guru, tetapi tanda bahwa murid dianggap mampu naik tingkat. Demikian pula kehidupan.

Rasulullah SAW bersabda:

“Apabila Allah mencintai suatu kaum, Dia akan menguji mereka.” (HR. Tirmidzi)

Ujian adalah tanda kepercayaan, bukan hukuman. Manusia diuji sesuai kapasitasnya. Tidak ada ujian yang datang kepada orang yang tidak mampu menanggungnya.

Secara rasional:

  • Orang kecil diuji dengan masalah kecil.
  • Orang besar diuji dengan masalah besar.
  • Orang berpengaruh diuji dengan tanggung jawab besar.

Jika seseorang terus diuji, bisa jadi ia sedang disiapkan untuk peran yang lebih besar.


6. Kesabaran Aktif: Kunci Mengubah Kesulitan

Islam tidak mengajarkan pasrah tanpa usaha. Sabar bukan berarti diam. Sabar adalah bertahan sambil bergerak.

Kesabaran aktif mencakup:

1. berpikir jernih di tengah tekanan,
2. tetap bekerja meski hasil belum terlihat,
3. memperbaiki strategi saat gagal,
4. menjaga moral saat diuji.

Inilah yang membedakan orang yang tumbuh dari orang yang tumbang. Kesulitan yang sama bisa melahirkan dua hasil berbeda, tergantung sikap mentalnya.


7. Akal Sehat dan Iman Bertemu di Titik yang Sama

Akal sehat tidak bertentangan dengan iman. Justru iman yang matang selalu masuk akal.

Alam mengajarkan keseimbangan.

Hidup mengajarkan proses.

Agama mengajarkan makna.

Kesulitan adalah bagian dari desain kehidupan. Menolaknya sama dengan menolak proses pendewasaan diri.


Penutup

Kesempatan emas tidak pernah datang sambil mengetuk pintu dengan senyum manis. Ia datang sebagai masalah, tekanan, perbedaan, dan ujian. Hanya mereka yang berpikir jernih, bersabar aktif, dan menggunakan akal sehat yang mampu mengenalinya.

Di balik kesulitan ada kemudahan.
Di balik bencana ada rahmat.
Di balik perbedaan ada kenikmatan.
Di balik ujian ada kenaikan derajat.

Hidup bukan tentang menghindari kesulitan, melainkan tentang menemukan makna, peluang, dan kemudahan di dalamnya. (Obasa)

 

 

Portal Suara Academia hadir sebagai platform akademis berkualitas dengan artikel ilmiah, diskusi panel, dan ulasan buku oleh Profesional dan Akademisi terkemuka, dengan standar tinggi dan etika yang ketat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Baca Juga :

Translate

Cari Blog Ini